Mereka berkerumun di depan kediaman Duta Besar Turki di Lingkaran Sheridan dengan memegang bendera dan spanduk bertuliskan, 'Biarkan Sejarah Memutuskan', dan 'Rekonsiliasi, Bukan Tuduhan Genosida'.
Wakil Ketua Komite Pengarah Nasional Turki Amerika (TASC) Günay Evinch mengatakan Biden melemparkan gas ke dalam api alih-alih menyatukan orang dalam rekonsiliasi.
"Dia memilih narasi komunitas Armenia, dia memilih untuk berpihak pada komunitas Armenia dengan mengorbankan komunitas Turki-Amerika, dan semua komunitas warisan harus diperlakukan sama dan adil," kata Evinch, seperti dikutip dari
Daily Sabah, Minggu (25/4).
Dengan Biden menyebut peristiwa 1915 sebagai 'genosida', berarti melanggar tradisi lama presiden AS yang menahan diri untuk tidak menggunakan istilah tersebut. Warga Turki di AS menolak keras dan mengatakan 'batal demi hukum'.
Salah satu anggota komunitas Turki-Amerika, Gizem Salcigil White, menolak sikap Biden. Mengatakan bahwa presiden AS itu mengakui apa yang disebut genosida tanpa memiliki proses pemeriksaan sejarah dan hukum bersama.
"Pernyataannya yang didorong oleh politik dan tidak berdasar tidak bisa dan tidak akan mengubah peristiwa sejarah yang terjadi lebih dari 100 tahun lalu," katanya.
"Sebagai komunitas, kami akan berdiri teguh melawan kepentingan politik pemerintahan Biden, dan kami akan terus memberikan kontribusi perdamaian dunia, menekankan pentingnya toleransi, dan bekerja menuju rekonsiliasi dua negara," katanya.
BERITA TERKAIT: