Desakan itu disampaikan pada Kamis (15/4), di tengah aksi protes anti-Prancis yang melumpuhkan sebagian besar Pakistan pada pekan ini.
"Karena ancaman serius terhadap kepentingan Prancis di Pakistan, warga negara Prancis dan perusahaan Prancis disarankan untuk meninggalkan negara itu untuk sementara," ujar kedutaan dalam email kepada warganya yang dikutip
AFP.
"Keberangkatan akan dilakukan oleh maskapai penerbangan komersial yang ada," tambah kedutaan.
Selama beberapa bulan terakhir, sentimen anti-Prancis di Pakistan terus meningkat, khususnya setelah Presiden Emmanuel Macron menyatakan dukungannya atas hak majalah Charlie Hebdo untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad.
Pada awal pekan ini, pemimpin partai Tahreek-e-Labbaik Pakistan (TLP), Saad Rizvi, menuntut pengusiran Duta Besar Prancis.
Namun beberapa jam setelah menyatakan tuntutannya, ia ditahan. Akibatnya ribuan pendukung TLP memblokir jalan di kota-kota seluruh Prancis.
Bentrokan tidak terhindarkan. Dua petugas polisi tewas, sementara pasukan lainnya menggunakan meriam air, gas air mata, dan peluru karet untuk menahan massa.
Rizvi adalah putra seorang ulama terkemuka dan pemimpin TLP sebelumnya, Khadim Hussain Rizvi, yang meninggal pada November setelah memimpin protes besar-besaran anti-Prancis di seluruh Pakistan.
Penodaan agama adalah masalah yang sangat sensitif di Pakistan yang konservatif, di mana UU mengizinkan hukuman mati diterapkan pada siapa pun yang dianggap menghina Islam atau tokoh Islam.