Semangat itu pula lah yang dibawa oleh mantan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il saat menjalani pergantian tahun pertama di mana dia duduk di kursi nomor satu Korea Utara tahun 1995, menggantikan sang ayah, Kim Il Sung yang wafat pada tahun 1994.
Meski begitu, ada yang berbeda saat dia menjalani pergantian tahun pertamanya itu. Dia merayakan tahun baru tanpa memberikan pidato tahun baru yang umum disampaikan oleh pemimpin Korea Utara.
Pada saat itu, Kim Jong Il lebih memilih untuk memeriksa unit Tentara Rakyat Korea di awal tahun baru.
Bukan tanpa alasan, apa yang dilakukan Kim Jong Il pada saat itu justru membawa pesan kuat bagi dunia, terutama negara-negara Barat.
Pasalnya, pada saat itu, Korea Utara tengah menhadapi cobaan yang berat. Negara-negara imprealis mengambil keuntungan dari runtuhnya sosialisme di negara-negara Eropa Timur dan mengarahkan ujung tombak serangan anti-sosialisnya ke Korea Utara. Mereka menerakan blokade ekonomi terhadap Korea Utara serta mengerahkan pasukan militer ke sekitar kawasan semenanjung Korea untuk melakukan latihan, yang dipandang oleh Korea Utara sebagai provokasi dan ancaman.
Lebih buruk lagi, pada waktu bersamaan, Korea Utara juga ditimpa bencana alam secara berturut-turut.
Di tengah situasi pelik tersebut, Kim Jong Il memilih jalan "Songun". Untuk diketahui bahwa Songun adalah kebijakan Korea Utara untuk mengutamakan militer dengan memberikan prioritas bagi Tentara Rakyat Korea untuk urusan negara dan alokasi sumber daya.
Karena itulah, Kim Jong Ill tidak menyambut pergantian tahun pada saat itu dengan pesta pora atau pidato publik, melainkan dengan mengunjungi dan menginspeksi fasilitas militer negaranya. Tanpa kata terucap, pesan kuatnya untuk dunia, terutama negara-negara yang menekannya, bahwa Korea Utara mendorong militer yang kuat, tampak jelas di depan mata.
BERITA TERKAIT: