Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (11/12), Dewan Pengungsi Denmark (DRC) mengkonfirmasi kematian rekannya di Tigray bulan lalu.
"Sayangnya, karena kurangnya komunikasi dan ketidakamanan yang sedang berlangsung di wilayah itu, hal itu belum memungkinkan untuk menjangkau keluarga mereka," katanya, seperti dikutip dari
BBC, Jumat (11/12).
Dewan Pengungsi Denmark (DRC) dengan sangat sedih melaporkan kematian tiga penjaga keamanan, sementara Komite Penyelamatan Internasional (IRC) mengkonfirmasi pembunuhan terhadap satu anggota stafnya di Kamp Pengungsi Hitsats di Shire, Ethiopia.
"Kami menyerukan kepada semua pihak dalam konflik untuk menyetujui gencatan senjata segera dan memastikan warga sipil, termasuk pengungsi dan pekerja bantuan, dilindungi dan dapat terus mengakses dan memberikan layanan penyelamatan nyawa," kata IRC.
Pihak berwenang Ethiopia belum memberikan komentar apa pun terkait kematian para pekerja kemanusiaan di wilayah tersebut.
Kekerasan semakin tak terkendali sejak pemerintah Ethiopia melancarkan 'operasi penegakan hukum' pada 4 November terhadap Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) yang pasukannya menyerbu sebuah kamp militer, menjarah perangkat keras militer dan membunuh para tentara.
Konflik tersebut menyebabkan hingga 50 ribu orang pengungsi Ethiopia menyeberang ke Sudan timur, dengan beberapa melaporkan harus menghindari kelompok bersenjata untuk mencapai tempat penampungan, menurut Badan Pengungsi PBB.
Pada Rabu, Michelle Bachelet, Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB mengatakan situasi di Ethiopia sangat mengkhawatirkan, tidak stabil, dan menyedihkan.
Pekan lalu, pemerintah Ethiopia mengatakan telah menandatangani kesepakatan akses kemanusiaan dengan PBB untuk mengoordinasikan pasokan penting Tigray.
Perdana Menteri Abiy Ahmed mengumumkan berakhirnya operasi militer di wilayah itu pada 28 November lalu setelah jatuhnya ibu kota wilayah itu, Mekelle.
BERITA TERKAIT: