Peneliti Senior di Yayasan Perdamaian Sasakawa Jepang Taisuke Abiru mengatakan kepada
Tass pada Rabu (11/11), bahwa pemerintahan Trump selama ini telah mencap China sebagai saingan AS. Cap itu tidak akan hilang begitu saja walau Biden menggantikan posisi Trump.
"Washington secara konsisten menjalankan kebijakan yang keras terhadap China. Garis ini kemungkinan tidak akan berubah di bawah Biden. Di tahun-tahun mendatang kita akan melihat persaingan strategis yang berkelanjutan antara AS dan China," ujar Abiru lebih lanjut.
Dengan kata lain, China masih akan menghadapi situasi sulit dalam hubungannya dengan AS, yang justru akan mendorongnya semakin dekat ke Rusia.
Beijing memandang hubungan dengan Rusia jauh lebih penting, dan di bawah bayang-bayang Biden sekalipun, hubungan China untuk Rusia akan tetap ada.
Untuk hubungannya dengan Jepang, pakar Jepang percaya bahwa saat ini tidak ada prospek untuk menyelesaikan masalah teritorial antara Tokyo dan Moskow.
"Sulit untuk mengharapkan kemajuan yang tajam di sini," katanya.
"Namun, dalam jangka menengah dan jangka panjang, Jepang akan berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan Rusia dan menandatangani perjanjian perdamaian berdasarkan solusi untuk masalah teritorial," lanjutnya.
Kemenangan Biden pun kemungkinan tidak akan berdampak signifikan pada situasi hubungan Jepang dengan China.
Meskipun penghitungan suara masih terus berlangsung, media utama AS memproyeksikan bahwa calon dari Partai Demokrat telah memenangkan pemilihan presiden.
Baik
Fox News dan Associated Press telah menempatkan Biden di atas kemenangan, melampaui ambang batas suara 270 yang dibutuhkan.
Namun, Trump tidak puas dengan hasil penghitungan suara. Ia mengklaim ketidakberesan dalam pemrosesan surat suara di negara bagian utama, dan telah mengajukan tuntutan hukum untuk melawan kasusnya di pengadilan.
BERITA TERKAIT: