Pernyataan itu datang untuk menepis rumor yang mengatakan bahwa jika Donald Trump kalah, maka AS, di bawah pemerintahan baru akan berubah pikiran mengenai kesepakatan kerjasama antara Taiwan-AS.
"Pusat tersebut telah memenangkan dukungan penuh dari Amerika Serikat sementara kebijakan penjualan senjata ke Taiwan didasarkan pada konsensus bipartisan," kata Wang, seperti dikutip dari
Taiwan News, Kamis (5/11).
"Kerjasama Taiwan-AS di sektor aeronautika tampaknya akan terus berlanjut sebagai bagian dari kemitraan strategis antara kedua negara," lanjutnya.
Fasilitas itu secara resmi dibuka pada Agustus di Taichung, tetapi Perusahaan Pengembangan Industri Dirgantara milik negara (AIDC) dan pabrikan F-16 Lockheed Martin masih dalam proses pembentukan tim untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan, menurut laporan Liberty Times.
Taiwan berharap pusat tersebut dapat menarik bisnis dari negara-negara Asia lainnya yang mengoperasikan jet F-16, karena memperbaikinya di Taiwan akan menghemat waktu dan uang, alih-alih mengirim F-16 mereka untuk diperbaiki di AS, yang akan jauh lebih mahal.
Angkatan Udara Taiwan saat ini memiliki 142 jet tempur F-16 yang sedang dalam proses peningkatan, sementara itu mereka juga telah membeli 66 jet F-16V 'Viper' yang lebih canggih.
BERITA TERKAIT: