Hotel-hotel di Goris, Armenia, biasanya melayani wisatawan yang datang untuk menikmati pemandangan pegunungan yang indah. Pengunjung memenuhi hotel setiap akhir pekan atau di musim liburan. Namun, keadaan itu kini berubah. Di tengah konflik yang meningkat antara Armenia dan Azerbaijan mereka menyulap hotel itu menjadi tempat penampungan sementara bagi warga yang ketakutan.
“Ketika pemboman dimulai pertama kali, kami berpakaian dan berlindung di ruang bawah tanah,†kata Anush, seorang akuntan dari Askeran, Nagorno-Karabakh, seperti dikutip dari
AFP, Jumat (9/10).
“Tapi dengan cepat kami melihat bahwa situasinya tidak terkendali dan memutuskan untuk melarikan diri ke Armenia,†lanjutnya.
Seorang pengungsi lain merasa sangat bersyukur atas pertolongan yang mereka terima dari warga penduduk lokal Armenia. Selain tempat berlindung, banyak dari warga lokal yang memberi mereka makanan dan pakaian.
“Kami sangat berterima kasih kepada orang-orang Armenia yang telah menerima kami dan memberi kami sup hangat,†kata Elen, pekerja telekomunikasi dari Stepanakert, Nagorno-Karabakh.
Hotel-hotel ini menampung keluarga secara gratis - sebuah solidaritas yang meluas ke seluruh Armenia. Di ibu kota Yerevan, sebuah klub sepak bola bahkan menampung 60 anak dan remaja dari zona perang. Relawan menyelenggarakan kegiatan, seperti video game dan kegiatan music untuk menghibur mereka.
Hubungan antara kedua bekas republic Soviet sudah tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
BERITA TERKAIT: