Yoo adalah sosok layak didorong untuk memimpin badan pedagangan PBB tersebut. Selain karena seorang calon Dirjen wanita pertama, ia juga adalah perwakilan Asia yang sangat profesional.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah menyebut, profesionalisme Yoo dapat dibuktikan dari keberhasilan perannya menyelesaikan RI-Korsel CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement).
"Dukungan RI atas Myung-hee sangat layak diberikan. Dia mewakili kaum wanita dan juga Asia-Afrika. Profesionalisme dia juga tak diragukan," kata Teuku kepada
Kantor Berita Politik RMOL pada Kamis (8/10).
Teuku memperhatikan, gagasan-gagasan Yoo dalam kampanyenya sangatlah membumi dan dibutuhkan oleh negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
"Dia banyak mengagendakan program yang langsung menyangkut hajat hidup negara-negara sedang berkembang. Seperti pelatihan perdagangan elektronik, dan dukungan dalam negosiasi perdagangan," jelasnya.
Memiliki 25 tahun di dunia perdagangan global, Yoo saat ini sudah berhasil melenggang masuk ke babak final. Ia masuk dalam tahap terakhir pencalonan dan harus bersaing dengan seorang ekonom dari Nigeria, Ngozi Okonjo-Iweala.
Pemilihan Dirjen WTO sendiri akan dilakukan dalam pertemuan dewan. Nantinya, negara-negara anggota WTO akan memilih pemimpinnya secara konsensus. Proses tersebut diharapkan akan rampung pada bulan depan.
Pada 25 November 2019, Yoo bersama dengan Menteri Perdagangan RI, Agus Suparmando menandatangani Deklarasi Bersama Indonesia-Korea (IK) CEPA di Busan, Korea Selatan.
IK CEPA sendiri merupakan kesepakatan yang memberikan akses pasar yang lebih luas bagi Indonesia.
BERITA TERKAIT: