Sejauh ini, Trump dan Biden telah menanam benih yang mereka harap akan tumbuh menjadi pemungutan suara, baik saat pemilihan berlangsung pada tanggal yang dijadwalkan atau malah ditunda.
Dan salah satu hal yang menarik, Trump mengatakan bahwa dirinya mendapat dukungan warga India-Amerika, di mana populasi komunitas India Asia mencapai 4 juta orang.
Kritikus menuduh Trump melebih-lebihkan. Namun, benar atau tidaknya pernyataan Trump bahwa komunitas India akan memilhnya, itu tergantung dari siapa yang berbicara, siapa yang melaporkan cerita, dan hasil jajak pendapat.
Di era Trump, fakta bisa berubah-ubah. Bisa jadi, seperti yang dikatakan mantan ajudan Trump Kellyann Conway, bahwa Trump bisa membuat alteratif kebenaran, di mana ada lebih dari satu kebenaran pada kebenaran lainnya.
Ini rumit. Ambil contoh Perdana Menteri India Narendra Modi. Trump mengklaim dia mendapat dukungan pemimpin India itu.
Klaim tersebut didasari oleh Presiden AS atas apa yang disebutnya unjuk rasa 'Howdy Modi' di Houston, Texas, pada bulan September 2019, yang dihadiri oleh sekitar 50 ribu anggota populasi imigran India di Amerika. Saat itu Trump dan Modi sempat berpelukan.
Saat berdiri di samping Trump, Modi mengatakan dia mengagumi 'rasa kepemimpinan, hasrat untuk Amerika, kepedulian terhadap setiap orang Amerika, dan tekad yang kuat untuk membuat Amerika hebat lagi'. Yang terakhir adalah slogan khas Trump, MAGA - Make America Great Again.
“Dia telah membuat ekonomi Amerika kuat lagi. Dia telah mencapai banyak hal untuk AS dan dunia. Teman-teman, kami di India telah terhubung dengan baik dengan Presiden Trump," kata Modi saat itu, seperti dikutip dari
Anadolu Agency, Rabu (7/10).
Dan kemudian dia menambahkan frasa yang ditafsirkan oleh Trump dan banyak basisnya sebagai dukungan untuk pemilihan ulang 3 November. Trump kemudian memperjuangkan kata-kata dan rapat umum Modi, menyebutnya sebagai peristiwa yang sangat bersejarah dan mengklaimnya sebagai dukungan besar dari Modi.
"Kami mendapat dukungan besar dari India, kami mendapat dukungan besar dari Perdana Menteri Modi, dan menurut saya rakyat, rakyat India (Amerika), akan memilih Trump," katanya pada awal September, seperti dilansir Times of India.
Tim kampanye Trump juga memproduksi sebuah video berjudul 'Four More Years', yang menargetkan orang India-Amerika, populasi imigran terbesar kedua setelah Meksiko. Film ini dirilis di Konvensi Nasional Partai Republik pada bulan September dan menampilkan apa yang disebut dukungan Modi untuk presiden.
Di New York, Trump ditanya oleh seorang reporter apakah kata-kata Modi akan diterjemahkan menjadi dukungan untuk pemilihannya kembali.
"Saya pastikan," jawab Trump singkat.
Jajak pendapat bulan September oleh Indiaspora, sebuah organisasi nirlaba para pemimpin diaspora global India, menunjukkan 66 persen mendukung Biden. Tetapi dukungan Demokrat telah merosot - pada tahun 2016, di mana ada 77 persen yang memilih Hillary Clinton.
Sementara itu, Biden menunjuk Senator Kamala Harris dari negara bagian California, yang ibunya adalah seorang imigran India sementara ayahnya adalah seorang imigran Jamaika, sebagai pasangannya.
Langkah Biden dipandang bersejarah dan kemungkinan besar cocok dengan komunitas India.
Sulit untuk mengungkap berapa banyak uang yang telah disumbangkan oleh orang India-Amerika untuk Biden atau Trump, tetapi berdasarkan mereka yang mendukung pemilihan Biden, tampaknya menunjukkan kubu Demokrat unggul dalam donasi keuangan.
Survei yang dilakukan oleh AAPI Data, penerbit penelitian tentang orang Amerika Asia dan Kepulauan Pasifik, menemukan 54 persen orang Amerika Asia akan memilih Biden dan 30 persen untuk Trump, dengan 15 persen ragu-ragu.
AAPI melaporkan bahwa survei terbaru menunjukkan popularitas Trump di kalangan pemilih India-Amerika meningkat menjadi 28 persen pada 2020 dari 16 persen pada 2016. Namun terlepas dari keuntungan Trump, survei menemukan 66 persen masih mendukung Biden.
Jumlah komunitas India-Amerika sekitar 4 juta dan sekitar setengahnya menggunakan visa imigrasi atau bekerja.
Sementara itu, politisi India telah mengambil peran yang lebih aktif dalam politik Amerika, dipimpin oleh RSS, organisasi Rashtriya Swayamsevak Sangh yang merupakan organisasi relawan India, sayap kanan, Hindu nasionalis, semua laki-laki dan BJP, Partai Bharatiya Janata, salah satu dari dua partai politik besar di India.
RSS dan BJP adalah organisasi supremasi Hindu yang telah mengambil peran politik aktif di AS dalam lima tahun terakhir. Baik RSS dan BJP menolak untuk mengutuk kebrutalan terhadap minoritas Muslim di India dan telah mendukung tindakan kekerasan terhadap semua agama minoritas di negara tersebut.
Para pakar mengatakan ada selusin faktor yang menguntungkan Trump di komunitas Asia India, menurut survei Partai Republik yang dilakukan oleh komite Trump Victory Indian American.
Yang terpenting adalah dukungan dan persahabatannya dengan Modi dan penghormatan yang telah ditunjukkan Trump terhadap Modi, India, dan India-Amerika. Itu telah meningkatkan status India di kancah global.
Faktor-faktor yang bekerja untuk Trump juga termasuk pengabaiannya terhadap masalah internal kontroversial India seperti Kashmir. Modi mencabut otonomi dari bagian Kashmir yang dikuasai India - sementara Biden telah berbicara menentang pelanggaran hak asasi manusia di sana dan mendesak New Delhi untuk mengekang pembatasan perbedaan pendapat. Itu telah menyebabkan beberapa pembelotan dukungan pada populasi India Asia.
Survei tersebut juga menemukan banyak komunitas India Asia percaya bahwa tim Trump-Modi, setidaknya untuk masa mendatang, adalah penentu terbaik melawan dominasi China yang tumbuh di panggung dunia. Ini mungkin juga menghalangi langkah agresif China terhadap India.
Survei tersebut menunjukkan sebanyak 50 persen pendukung tradisional Demokrat akan membelot dan memilih Trump.
Pemilihan tinggal menghitung hari. Semakin dekat nampak semakin tidak pasti. Banyak yang bisa terjadi secara tiba-tiba. Begitu pula pertanyaan tentang kandidat mana yang akan menuai dukungan dari komunitas India-Amerika.