Memimpin Malaysia sejak Mahathir Mohamad mundur membuat kepemimpinan Muhyiddin diterpa banyak angin politik. Muhyiddin dianggap tidak memiliki legitimasi yang kuat karena membentuk pemerintahan bukan pilihan rakyat.
Alhasil, Muhyiddin ditekan untuk mempercepat pemilu, termasuk oleh koalisinya sendiri, Pekatan Nasional (PN).
"Tapi Muhyiddin masih mikir-mikir, kalau pemilu dipercepat, saya bisa menang apa ndak. Jadi dia ngitung-ngitung juga," begitu kata Associate Professor FAH UIN Jakarta, Sudarnoto Abdul Hakim dalam RMOL World View bertajuk "Rebutan Kusi PM Malaysia" pada Senin (28/9).
Namun akhirnya Muhyiddin semakin percaya diri ketika memenangkan pemilu Sabah yang dikenal sangat penting bagi Malaysia.
Koalisi Gerakan Rakyat Sabah (GRS) yang dipimpin oleh Muhyiddin berhasil mengggulingkan Kerajaan Warisan Sabah dengan memenangkan 38 kursi.
Dengan kemenangan tersebut, Sudarnoto mengatakan, kepercayaan diri Muhyiddin semakin tinggi untuk menggelar pemilu federal hingga akhirnya ia berjanji untuk mempercepat pemilu.
"Janji begitu, Sabah itu test case. Sabah itu kalau dia menang paling tidak konfidensi Muhyiddin naik," tutur Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional itu.
"Tapi ya belum tentu, pas pemilu federal kalau gabisa dijaga ya dia bisa jatuh juga. Paling tidak ini tes pertama karena Sabah dan Serawak itu sangat penting untuk ngetes apakah benar Muhyiddin mendapatkan legitimasi," tambahnya.
Sudarnoto mengurai, opsi yang paling mungkin untuk menyelesaikan krisis politik di Malaysia adalah dengan menggelar pemilu yang dipercepat.
Mengingat ada tekanan di dalam koalisi PN dan banyaknya kritikan dari oposisi mengenai legitimasi Muhyiddin.
"Menurut saya kekisruhan itu bisa diselesaikan lewat Yang di-Pertuan Agong. Yang di-Pertuan Agung bisa mengumumkan pemilu," ujarnya.
"Menunggu dia sembuh, saya kira Muhyiddin akan ketemu Yang di-Pertuan Agung. Kalau dia mau mengikuti janjinya, dia akan bilang ingin percepat pemilu," tandasnya.
BERITA TERKAIT: