Temuan tersebut diumumkan oleh Wakil Direktur Kantor Investigasi Keamanan Cyber Biro Inverstigasi Taiwan, Liu Chia-zung kepada wartawan pada Rabu (19/8), seperti yang diberitakan
Reuters.
"kelompok peretas China telah menyusup ke lembaga pemerintah dan penyedia layanan informasi untuk waktu yang lama," ujar Liu.
"Mereka bertujuan untuk mendapatkan dokumen dan data penting pemerintah. Beberapa data pemerintah mungkin bocor. Ini telah menjadi ancaman besar," sambungnya.
Liu menjelaskan, serangan tersebut sudah dilakukan sejak awal 2018 dengan menargetkan setidaknya 10 lembaga pemerintahan dan 6.000 akun email pejabat. Namun, Liu belum mendapatkan informasi data apa saja yang telah dicuri karena para peretas menyembunyikan jejak mereka.
Dari banyaknya serangan, dua kelompok peretas China setidaknya melakukan infiltrasi ke empat perusahaan teknologi Taiwan yang memberikan layanan informasi kepada pemerintah.
Dua kelompok peretas yang terlibat adalah Blacktech dan Taidoor, yang didukung oleh Partai Komunis China. Mereka menargetkan celah dalam sistem yang disediakan oleh penyedia layanan informasi pemerintah Taiwan.
Saat ini, Liu mengatakan, pihaknya tengah meningkatkan pengawasan terhadap instansi pemerintah. Kantornya pun sedang menyelidiki rantai pasokan layanan untuk mengidentifikasi apakah ada perusahaan atau individu Taiwan yang bekerja sama dengan peretas China.
Selama ini, pemerintahan Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Demokratik mendesak warga Taiwan untuk waspada pada upaya infiltrasi dari China.
Hingga saat ini, Kantor Urusan Taiwan-China belum memberikan komentar. Namun pemerintah China kerap menyanggah aksi peretasan dalam setiapn tuduhan.
BERITA TERKAIT: