Pemimpin oposisi utama Turki Kemal Kilicdaroglu mengeluarkan kritikannya itu dengan mengatakan bahwa partai yang dipimpinnya tidak menerima bayang-bayang dari kekuatan manapun, merujuk pada pernyataan Biden soal dukungannya kepada pihak oposisi Turki.
"Partai Rakyat Republik (CHP) berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan Turki dan tidak menerima bayang-bayang dari kekuatan kekaisaran mana pun," kata Kilicdaroglu, seperti dikutip dari AA, Minggu (16/8).
Pernyataan Biden itu dibuat pada Desember tahun lalu dalam sebuah tayangan video wawancara bersama The New York Times yang viral kembali di media sosial pada Sabtu (15/8).
Ketika ditanya tentang pandangannya terhadap Erdogan, Biden menggambarkan orang nomer satu di Turki itu sebagai seorang 'otokrat'. Dia lalu mengkritik kebijakan Erdogan terhadap Kurdi dan menganjurkan kepada publik AS untuk mendukung oposisi Turki.
Saat itu Biden juga mengatakan bahwa dirinya akan mengupayakan perubahan rezim di Turki dan mendukung oposisi untuk menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam pemilu 2023.
"Apa yang menurut saya harus kami lakukan sekarang adalah mengambil pendekatan yang sangat berbeda dengannya sekarang. Memperjelas bahwa kami mendukung kepemimpinan opisisi," kata Biden.
Sebelumnya kecaman juga datang dari Jurubicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin yang mengatakan bahwa apa yang dikatakan Joe Biden adalah murni ketidaktahuannya tentang Turki, ia juga menyebut pernyataan capres Demokrat itu sebagai satu bentuk arogansi dan kemunafikan.
"Analisis Turki oleh Joe Biden didasarkan pada ketidaktahuan murni, kesombongan dan kemunafikan," kata Kalin di Twitter.
"Hari-hari memerintah Turki sudah berakhir. Tapi jika kamu masih berpikir kamu bisa mencoba, jadilah tamu kami. Kamu akan membayar harganya," tambah Kalin.
Setali tiga uang kepala Direktorat Komunikasi Turki Fahrettin Altun juga membalas pernyataan Biden, ia mengatakan klip video itu "mencerminkan permainan yang dimainkan di Turki dan sikap intervensionis mereka."
Hubungan Turki dan AS baru-baru ini memang sedikit terganggu karena sejumlah alasan, seperti pembelian rudal S-400 Rusia dan operasi kontra-terorisme di Suriah utara, di mana yang terakhir melengkapi YPG, cabang kelompok teror PKK Suriah yang bertanggung jawab atas kematian puluhan ribu warga Turki dengan senjata.
Masalah lain adalah seruan Turki untuk mengekstradisi Fetullah Gulen yang sejauh jni tidak didengarkan oleh pemerintah AS. Gulen adalah pemimpin Organisasi Teroris Fetullah yang berbasis di AS yang dituduh Turki mendalangi kudeta gagal tahun 2016 yang menyebabkan 251 orang menjadi martir dan ribuan lainnya terluka.
BERITA TERKAIT: