Ini adalah pemilihan parlemen pertama di Asia Selatan yang diadakan di tengah pandemik Covid-19 dengan jumlah pemilih hampir 71 persen. Sri Lanka tidak memiliki parlemen sejak Maret.
Gotabaya Rajapaksa telah meminta dua pertiga mayoritas di parlemen untuk dapat mengembalikan kekuasaan eksekutif penuh ke kursi kepresidenan. Menurutnya, langkah ini diperlukan untuk melaksanakan agendanya membuat Sri Lanka aman secara ekonomi dan militer.
Dengan kemenangannya ini, Gotabaya Rajapaksa kemungkinan akan melantik kakak laki-lakinya, Mahinda Rajapaksa, sebagai perdana menteri berikutnya, setelah menjabat sebagai juru kunci sejak November lalu. Mahindra sebelumnya adalah presiden dari tahun 2005 hingga 2015.
Mahindra terkenal karena menumpas pemberontak Macan Tamil yang memperjuangkan wilayah yang terpisah untuk minoritas Tamil selama masa kepemimpinannya pada 2009, seperti dikutip dari
Reuters, Sabtu (8/9).
Pemilihan itu dinilai merupakan bencana bagi oposisi yang terpecah.
Perdana Menteri India Narendra Modi termasuk di antara para pemimpin dunia pertama yang memberi selamat kepada Mahinda Rajapaksa atas kemenangan SLPP.
SJB dipimpin oleh Sajith Premadasa, anak dari Ranasinghe Premadasa, mantan presiden yang dibunuh pada tahun 1993 oleh Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE), sebuah organisasi militan Tamil.
SLPP diharapkan menggunakan kemenangan gemilangnya untuk memberlakukan perubahan konstitusional.
Gotabaya dan Mahinda sangat populer di kalangan mayoritas Buddha Sinhala setelah dikreditkan dengan mengalahkan LTTE dalam perang saudara 26 tahun yang berakhir pada 2009 setelah kematian sedikitnya 100.000 orang.
Menjelang pemilihan, umat Kristiani membagikan doa khusus bagi para pemilih untuk memilih kandidat terbaik yang tidak akan mengikuti jalan egois.
Ruwan Minsara, yang selamat dari pemboman Paskah pada April 2019, mengatakan pemerintah baru dipilih untuk mengatur semua komunitas termasuk Kristen, Hindu, Muslim, dan Tamil.
"Kami berharap pemerintahan baru segera membawa keadilan bagi para korban bom Minggu Paskah," kata Minsara.
Mengenakan masker wajah dan menjaga jarak fisik, para pemilih menggunakan pena mereka sendiri untuk menandai kertas suara saat mereka memberikan suara mereka.
BERITA TERKAIT: