Antara 'Re-Infeksi' Atau 'Re-Aktivasi', Apa Alasan Pasien Sembuh Bisa Kembali Positif Covid-19?

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Kamis, 16 April 2020, 16:48 WIB
Antara 'Re-Infeksi' Atau 'Re-Aktivasi', Apa Alasan Pasien Sembuh Bisa Kembali Positif Covid-19?
Pasien corona/Net
rmol news logo Para ahli dan pejabat Korea Selatan tengah menyelidiki alasan munculnya infeksi virus corona baru (Covid-19) pada pasien yang telah sembuh. Kemungkinan dari hal tersebut adalah adanya infeksi ulang (re-infeksi), kambuh (re-aktivasi), atau tes yang salah.

Hingga saat ini, Kamis (16/4), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan ada 141 pasien Covid-19 yang sudah sembuh terinfeksi kembali oleh virus mematikan tersebut.

Dalam hal ini, KCDC mengungkapkan skenario re-infeksi akan menjadi sangat memprihatinkan karena berimplikasi pada pengembangan kekebalan populasi. Sementara re-aktivasi menjadi hal yang paling memungkinkan.

Dimuat CNA, re-aktivasi berarti sebagian virus masuk ke suatu keadaan "tidak aktif" untuk sementara waktu. Di mana pada beberapa pasien yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau kekebalan yang lemah, virus akan hidup kembali.

Sebuah studi yang dilakukan oleh dokter di China dan Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan bahwa virus corona baru dapat merusak limfosit T, juga dikenal sebagai sel T, yang memainkan peran sentral dalam sistem kekebalan tubuh dan kemampuan untuk melawan infeksi.

Dikatakan oleh seorang ahli virus di Korea University College of Pharmacy, Kim Jeong-ki, "re-aktivasi" atau kambuh menjadi sangat memungkinkan untuk fenomena tersebut.

"Ketika anda menekan, pegas itu menjadi lebih kecil. Namun ketika anda melepaskan tangan anda, pegas itu muncul," katanya menganalogikan.

Meski begitu, kekambuhan dan bukan "re-infeksi" yang menjadi alasan dari fenomena tersebut tetap menciptakan tantangan baru untuk menghentikan penyebaran virus.

"Otoritas kesehatan Korea Selatan masih belum menemukan kasus di mana pasien yang 're-aktivasi' menyebarkan virus ke pihak ketiga, tetapi jika infeksi seperti itu terbukti, itu akan menjadi masalah besar," kata ahli pengembangan vaksin dan profesor di Universitas Chung-Ang, Seol Dai-wu.

Selama ini, pasien di Korea Selatan dianggap bersih dari virus ketika mereka dites negatif dua kali dalam periode 48 jam. Tes dilakukan menggunakan RT-PCR yang diyakini akurat oleh banyak pihak.

"Tes RT-PCR memiliki akurasi 95 persen. Ini berarti masih ada 2 sampai 5 persen dari kasus-kasus yang terdeteksi positif palsu atau positif palsu," kata Kim. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA