Pengusaha Yang Hilang Karena Menyebut Xi Jinping "Badut" Ternyata Tengah Diselidiki Atas Tuduhan Pelanggaran Serius

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Rabu, 08 April 2020, 13:42 WIB
Pengusaha Yang Hilang Karena Menyebut Xi Jinping "Badut" Ternyata Tengah Diselidiki Atas Tuduhan Pelanggaran Serius
Presiden China, Xi Jinping/Net
rmol news logo Kasus yang menimpa seorang mantan eksekutif perusahaan properti China, Ren Zhiqiang, yang mengkritik dan menyebut Presiden Xi Jinping sebagai "badut" kembali muncul ke permukaan.

Beberapa waktu yang lalu, Ren yang merupakan seorang anggota Partai Komunis China sekaligus mantan eksekutif Huayuan Real Estate Group hilang sejak 12 Maret.

Ren hilang setelah menulis sebuah esai yang mengkritik Xi Jinping dan pemerintahannya dalam penanggulangan wabah virus corona di China.

Dalam esainya, Ren mengkritisi pidato yang disampaikan Xi pada 23 Februari. Di sana, Ren mengungkapkan telah terjadi krisis pemerintahan dalam partai.

Selain itu, meski tidak menyebutkan nama Xi, Ren dilaporkan menulis bahwa ia tidak melihat seorang kaisar sedang berdiri di sana memamerkan "pakaian barunya", tetapi seorang badut telanjang yang bersikeras terus menjadi kaisar.

"Realitas yang ditunjukkan oleh epidemi ini adalah bahwa partai membela kepentingannya sendiri, pejabat pemerintah membela kepentingan mereka sendiri, dan raja hanya membela status dan kepentingan inti," kata versi esai yang telah diterjemahkan dan dimuat The Guardian.

Setelah lama menghilang, pada Selasa malam (7/4), pejabat partai mengungkapkan Ren tengah diselidiki atas pelanggaran serius atas kedisiplinan dan hukum.

Pelanggaran tersebut banyak digunakan untuk tuduhan terhadap kasus korupsi.

Dalam pernyataan singkat, otoritas anti-korupsi China juga mengatakan saat ini Ren juga sedang menjalani tinjauan disiplin dan pengawasan dari Komisi Anti-Korupsi.

Sebelum terlibat dalam kasus ini, pada 2016, Ren juga telah menjalani masa percobaan selama satu tahun setelah mengkritik pemerintah. Akun media sosial yang memiliki puluhan juta pengikut juga ditutup. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA