Beberapa waktu yang lalu, Ren yang merupakan seorang anggota Partai Komunis China sekaligus mantan eksekutif Huayuan Real Estate Group hilang sejak 12 Maret.
Ren hilang setelah menulis sebuah esai yang mengkritik Xi Jinping dan pemerintahannya dalam penanggulangan wabah virus corona di China.
Dalam esainya, Ren mengkritisi pidato yang disampaikan Xi pada 23 Februari. Di sana, Ren mengungkapkan telah terjadi krisis pemerintahan dalam partai.
Selain itu, meski tidak menyebutkan nama Xi, Ren dilaporkan menulis bahwa ia tidak melihat seorang kaisar sedang berdiri di sana memamerkan "pakaian barunya", tetapi seorang badut telanjang yang bersikeras terus menjadi kaisar.
"Realitas yang ditunjukkan oleh epidemi ini adalah bahwa partai membela kepentingannya sendiri, pejabat pemerintah membela kepentingan mereka sendiri, dan raja hanya membela status dan kepentingan inti," kata versi esai yang telah diterjemahkan dan dimuat
The Guardian.
Setelah lama menghilang, pada Selasa malam (7/4), pejabat partai mengungkapkan Ren tengah diselidiki atas pelanggaran serius atas kedisiplinan dan hukum.
Pelanggaran tersebut banyak digunakan untuk tuduhan terhadap kasus korupsi.
Dalam pernyataan singkat, otoritas anti-korupsi China juga mengatakan saat ini Ren juga sedang menjalani tinjauan disiplin dan pengawasan dari Komisi Anti-Korupsi.
Sebelum terlibat dalam kasus ini, pada 2016, Ren juga telah menjalani masa percobaan selama satu tahun setelah mengkritik pemerintah. Akun media sosial yang memiliki puluhan juta pengikut juga ditutup.
BERITA TERKAIT: