Amnesty International: 106 Orang Tewas Dalam Bentrok Di Iran Sejak Pekan Lalu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 20 November 2019, 06:42 WIB
Amnesty International: 106 Orang Tewas Dalam Bentrok Di Iran Sejak Pekan Lalu
Salah satu kerusakan yang terjadi akibat bentrok di Iran/Al Jazeera
rmol news logo Gelombang protes yang terjaid di Iran sejak pekan lalu atas kenaikan harga bahan bakar telah merenggut lebih dari 100 nyawa.

Kelompok HAM yang berbasis di Inggris, Amnesty International pada Selasa (19/11) merilis data bahwa tindakan keras pemerintah terhadap pengunjuk rasa telah menyebabkan total 106 pengunjuk rasa meninggal dunia di 21 kota di Iran.

Kelompok tersebut menuduh bahwa pasukan keamanan Iran menggunakan kekuatan yang berlebihan dan mematikan untuk membubarkan demonstrasi sejak pekan lalu.

"Setidaknya 106 pengunjuk rasa di 21 kota telah tewas, menurut laporan yang dapat dipercaya," kata Amnesty International dalam sebuah pernyataan.

"Jumlah kematian sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi dengan beberapa laporan menunjukkan sebanyak 200 telah terbunuh," sambungnya.

Sementara itu, menurut angka yang dikumpulkan oleh media Al Jazeera berdasarkan laporan di lapangan, setidaknya 11 orang telah meninggal dunia sejak pekan lalu. Lima di antaranya adalah pasukan keamanan dan enam lainnya adalah warga sipil.

Belum ada tanggapan dari pemerintah Iran dan belum ada angka resmi yang dirilis soal berapa jumlah korban tewas dalam gelombang protes berujung kekerasan yang terjadi.

Peneliti Amnesty International di Iran, Raha Bahreini mengatakan bahwa jumlah kematian mereka didasarkan pada informasi yang diterima dari saksi di lapangan, aktivis hak asasi manusia di dalam negeri, serta jurnalis dan sumber terpercaya di luar negeri.

"Informasi yang kami peroleh menunjukkan pola mengerikan pembunuhan tidak sah di seluruh negeri," katanya kepada Al Jazeera,.

"Informasi yang kami terima sejauh ini menunjukkan bahwa dalam pola yang konsisten dengan praktik masa lalu, pasukan keamanan bahkan menolak untuk mengembalikan tubuh banyak dari mereka yang tewas ke keluarga mereka, atau memaksa keluarga untuk menguburkan orang yang mereka cintai dalam keadaan terburu-buru. dan tanpa otopsi independen, yang tentu saja bertentangan dengan hukum dan standar internasional," tambahnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA