Dilansir dari
Channel News Asia, Minggu (3/11), polisi Orinda menerima pengaduan adanya gangguan dari rumah sewaan Airbnb pada pukul 21.30 dan 22.00 waktu setempat.
Begitu menerima laporan, sekitar pukul 22.48, polisi mengirimkan seorang anggota ke rumah tersebut. Saat tiba di lokasi, terdengar suara tembakan.
Menurut pihak berwenang, para korban tewas adalah Oshiana Tompkins (19), Tiyon Farley (22), Omar Taylor (24), Ramon Hill Jr. (23), dan Javin County (29). Selain kelima orang ini, beberapa orang lainnya terluka dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Setelah aksi penembakan, suasana menjadi kacau dan banyak orang yang melarikan diri sehingga membuat polisi kesulitan mencari pelaku. Terlebih pesta tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 orang. Hingga saat ini, polisi setempat masih memburu pelaku penembakan.
Sementara itu, pihak Airbnb akan melarang penyewaan rumah atau kamar untuk kegiatan pesta.
"Mulai hari ini, kami melarang pesta dan kami menggandakan upaya untuk memerangi pihak yang tidak berwenang. Serta menyingkirkan perilaku dari tuan rumah dan tamu yang melakukan pelecehan, termasuk perilaku yang mengarah pada peristiwa mengerikan yang kami saksikan di Orinda," ujar salah satu pendiri dan kepala eksekutif Airbnb, Brian Chesky di laman Twitternya.
Padahal sebelumnya, penyewa rumah yang menyewa rumah dari Airbnb mengatakan dirinya hanya akan mengadakan reuni untuk selusin orang.
Selain memperketat aturan, lanjut Chesky, Airbnb akan memperluas penyaringan manual "reservasi berisiko tinggi" dengan menciptakan "tim respon cepat".
BERITA TERKAIT: