Berada di antara pasukan pemerintah Suriah dan pasukan Turki, pasukan Rusia mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan pasukan AS pada Selasa (15/10). Pergerakan cepat yang dilakukan Rusia ini guna mengukuhkan perannya di kawasan.
Dimuat
Associated Press, sejak 2017 pasukan AS memiliki pos-pos terdepan di Manbij. Setelah Presiden AS Donald Trump menarik semua pasukannya dari sana, sekarang Rusia lah yang menggantikannya.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, di luar Manbij, pasukan Rusia berpatroli di garis depan antara Turki dan Suriah untuk memisahkan mereka.
Rusia melalui utusannya untuk Suriah mengaku langkah ini dilakukan karena sudah tidak ada yang tertarik untuk menyelesaikan situasi di Suriah. Meski demikian, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan masalah ini adalah kepentingan bersama
"Tidak ada yang tertarik dalam pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan pasukan Turki," ujar utusan Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentyev.
Menanggapi hal ini, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kelly Craft mengatakan "sangat prihatin" jika pasukan Rusia berpatroli di antara kedua pihak.
Rusia sendiri dikenal telah menjadi sekutu lama Presiden Suriah Bashar al-Assad. Kedekatan hubungan keduanya membuat Rusia terlibat dalam konflik Suriah sejak 2015. Militer Rusia bahkan mengirim senjata ke Damaskus, melatih ribuan tentara, dan menempatkan penasihat militer untuk Assad.
Sementara itu, terlepas dari langkah Rusia, Turki bersikeras akan menguasai Manbij. "Kami bertekad untuk mendapatkan kendali atas Manbij," ujar Wakil Presiden Turki, Fuat Oktay kepada
Sky News.
BERITA TERKAIT: