Dimuat oleh Politico, Rabu (2/10), pada 25 Juli lalu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky meminta Presiden AS, Donald Trump untuk menjual Javelin melalui sambungan telepon. Diduga, Trump mengiyakan hal tersebut dengan balasan Ukraina harus menyelidiki kasus korupsi yang dilakukan oleh lawan politiknya, Joe Biden.
Pembicaraan telepon itu bertepatan sepekan setelah Trump memerintahkan Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS untuk menghentikan semua bantuan militer ke Ukraina yang diyakini sebagai alat untuk menekan Zelensky.
Meski belum dipublikasikan, namun Komite Senat untuk hubungan luar negeri mengkonfirmasi penjualan tersebut.
Diketahui, kesepakatan pembelian Javelin tersebut termasuk dalam pembelian 150 senjata tank-busting portebel buatan Raytheon dan Lockheed Martin yang diumumkan oleh Kedutaan Besar AS di Ukraina pada 7 Juli lalu.
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan, transaksi pertama kali dilakukan dengan penjualan 210 rudal dan 37 peluncur pada Maret 2018 senilai 47 juta dolar AS atau setara dengan Rp 667 miliar.
Ketika ditanyai, jurubicara Departemen Luar Negeri AS tidak memberikan komentar apa pun hingga Kongres memberi instruksi yang mana saat ini adalah proses penyelidikan pemakzulan Trump.
Selain penjualan senjata, menurut Layanan Penelitian Kongres non-partisan, Amerika Serikat telah memberikan 1,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 21 triliun bantuan militer ke Ukraina antara 2014 hingga Juni 2019.
BERITA TERKAIT: