Hal tersebut diumumkan oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan (Jumat, 28/12). Pihak kementerian menemukan bahwa komputer pribadi di pusat yang dikelola negara di pusat pemukiman kembali tersebut ditemukan telah terinfeksi kode berbahaya.
Pihak kementerian mengakui bahwa hal ini dianggap sebagai kebocoran informasi berskala besar pertama yang melibatkan pembelot Korea Utara.
Identitas peretas dan asal mula serangan siber ini belum dikonfirmasi.
Pusat pemukiman kembali Gyeongsang Utara adalah satu di antara 25 lembaga yang dijalankan Kementerian Unifikasi untuk membantu sekitar 32.000 pembelot dari Korea Utara agar bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di Korea Selatan.
Data yang dicuri itu mencakup data identitas dari sekitar 997 pembelot Korea Utara. Data yang bocor mencakup nama, tanggal lahir dan alamat mereka.
Para analis mengatakan ada beberapa kekhawatiran bahwa kebocoran itu dapat membahayakan anggota keluarga pembelot yang tetap berada di Korea Utara.
Dikabarkan
BBC, Sokeel Park, Country Director Korea Selatan untuk Liberty di Korea Utara, yakni sebuah LSM internasional yang membantu para pembelot Korea Utara, mengatakan peretasan ini akan membuat pembelot lain merasa kurang aman tinggal di Korea Selatan. Mereka dapat mengubah nama, nomor telepon, dan alamat rumah mereka.
Investigasi oleh kementerian unifikasi dan polisi saat ini sedang berlangsung dan belum ada hasil yang diumumkan.
[mel]
BERITA TERKAIT: