"Sekarang beberapa orang mencoba mengancam kita lewat ekonomi, lewat tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang, investasi dan inflasi. Kami telah melihat permainan Anda, dan kami menantang Anda," ujar Erdogan saat berpidato di hadapan kader Partai Keadilan dan Pembangunan seperti dilansir
Reuters, kemarin.
Partai Keadilan dan Pembangunan merupakan partai utama pendukung Erdogan di pemerintahan. Pidato itu dilakukan sebagai jawaban atas turunnya peringkat ekonomi Turki menjadi non investasi atau junk. Penilaian itu dilakukan dua lembaga pemeringkat surat utang
Moody's dan
Standard & Poor's, Sabtu lalu.
Erdogan menegaskan, Turki tidak akan menyerah atas kondisi lemahnya ekonomi. Dia justru menuding anjloknya mata uang Lira sebagai akal bulus Amerika yang menusuk ekonomi Turki dari belakang.
"Kami tidak, dan tidak akan menyerah untuk berbagai langkah kerja sama strategis yang membuat kami (Turki) sebagai target strategis," tegasnya.
Untuk diketahui, anjloknya ekonomi Turki merupakan dampak perang dagang terhadap Amerika. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor baja dan alumunium sejak awal tahun ini. Sontak, mata uang Turki, lira melemah sekitar 40 persen terhadap dolar sejak awal tahun.
Namun, Turki balik melawan. Kepada Amerika, tarif impor dinaikkan dua kali lipat. Kenaikan dilakukan di sektor suku cadang mobil, alkohol dan tembakau hingga 140 persen. Bank sentral Turki, CBRT, juga membatasi transaksi jual beli lira dan valuta asing antara bank Turki dengan bank asing untuk menekan aksi para spekulan.
Meski dibombardir secara ekonomi, Turki tetap tegak berdiri. Beberapa upaya dilakukan. Salah satunya mengedepankan investasi langsung dan menolak mentah-mentah utang luar negeri yang coba ditawarkan IMF.
Pemerintah Amerika seperti dijelaskan menteri Keuangan, telah menyiapkan sanksi lanjutan kepada Turki. Dalam conference call dengan sekitar 6.000 investor beberapa hari lalu, Menteri Keuangan Turki, Berat Albayrak mengaku negaranya mengedepankan imvestasi langsung untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan tidak akan meminjam ke IMF.
Kepada warganya, Otoritas Turki juga menyerukan boikot produk Amerika. Yang sedang populer, seruan menghancurkan ponsel merk iPhone sebagai simbol kapitalesme Amerika. Seruan itu diikuti sebagian loyalis, bahkan ada yang mengganti ponsel non-Amerika.
Serangan balik Turki ini bikin geram Amerika. "Tarif dari Turki tentunya disayangkan dan langkah ke arah yang salah. Tarif yang dikenakan Amerika Serikat terhadap Turki didasarkan pada kepentingan keamanan nasional, sementara tarif mereka didasarkan pada pembalasan," kata Jubir Gedung Putih Sarah Sanders.
Di sisi lain, Amerika melakukan perang dagang terhadap Turki lantaran permintaan Trump agar Pastor Andrew Brunson dibebaskan, tidak digubris Erdogan. Otoritas Turki memutuskan sang pastor terlibat kegiatan mata-mata dan terorisme terkait aksi kudeta militer gagal pada 2016.
Apakah Turki akan kalah melawan Amerika? Belum tentu. Apa yang terjadi di Turki membuat sejumlah negara lain turun tangan. Bantuan datang dari Jerman, Rusia, China, Prancis dan Qatar. Lima negara ini bersedia mendongkrak lira.
Semuanya menjanjikan hubungan ekonomi lebih baik. Paling konkret tawaran Qatar dan Rusia. Emir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad datang langsung ke Turki untuk menjajaki investasi senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 221 triliun. ***
BERITA TERKAIT: