Kepolisian juga tengah mempertimbangkan untuk membentuk komite khusus untuk memproses kasus Shaaribu atau tidak.
"Kami tengah meninjau perlu tidaknya komite khusus yang mengurusi kasus ini. Kami masih dalam tahap awal penyelidikan," ujar Wakil InsÂpektur Jenderal Polisi Tan Sri Noor Rashid Ibrahim.
"Kami ingin melihat dasar-dasar tuduhan baru sebelum kita memutuskan bagaimana untuk bergerak ke depan," sambungnya.
Sejauh ini belum ada rencana memanggil kembali saksi-saksi yang sebelumnya telah diperÂiksa. Namun, kemungkinan untuk memanggil saksi-saksi lama itu masih terbuka.
Salah satu orang yang mungkin dipanggil dalam penyelidikan ulang adalah Deputi Inspektur Musa Safri, yang merupakan bekas staf atau aide-de-camp bekas PerÂdana Menteri Najib Razak.
"Kami tahu di mana dia. Saya paham bahwa dia masih ada di dalam negara ini," ujar Noor Rashid.
Altantuya (28) tewas diÂbunuh di Malaysia pada 2006. Dia diyakini ditembak mati sebelum jenazahnya diledakÂkan dengan peledak hingga hancur berkeping-keping di sebuah hutan dekat Subang Dam, Puncak Alam, Shah Alam.
Dua bekas anggota polisi Malaysia bernama Sirul Azhar Umar dan Azilah Hadri divoÂnis mati atas pembunuhan ini. Namun pertanyaan soal motif dan siapa yang memerintahÂkan pembunuhan Altantuya tidak pernah terjawab.
Pada 20 Juni lalu, ayah menÂdiang Altantuya, Dr Shaaribu Setev, mengajukan laporan polisi agar penyelidikan kasus pembunuhan putrinya dibuka kembali.
Ayah Altantuya juga menyeÂbut nama Musa Safri dalam laporan terbarunya.
"Musa merupakan saksi mata sangat krusial karena dia mampu memberikan inforÂmasi soal siapa yang menginÂstruksikannya mengamankan kedatangan Azilah dan Sirul dan untuk tujuan apa," ujar ayah Altantuya dalam laporan ke polisi Malaysia.
Kasus Altantuya ini menyÂeret nama Najib. Altantuya diduga dibunuh terkait peranÂnya sebagai penerjemah dan rekan Abdul Razak Baginda, bekas penasihat Najib, dalam perundingan pembelian dua kapal selam kelas Scorpene dari perusahaan raksasa PranÂcis, DCNS pada 2002. PemÂbelian kapal selam itu diduga kuat sarat penyuapan.
Najib telah membantah tuduhan terkait Altantuya maupun tuduhan korupsi daÂlam pembelian kapal selam tersebut. Namun diketahui bahwa pembelian kapal selam itu terjadi saat Najib menjabat Menteri Pertahanan Malaysia antara tahun 2000-2008 dan Abdul Razak menjadi penasiÂhatnya. ***
BERITA TERKAIT: