Langkah itu diambil di tengah protes karyawan Perancis yang menuntut kenaikan upah. Dia mengundurkan diri setelah staf Perancis menolak kesepakatan pembayaran baru.
"Saya menerima konsekuensi dari pemungutan suara ini dan akan mengajukan pengunduran diri saya kepada dewan Air France dan Air France-KLM dalam beberapa hari mendatang," katanya.
Dalam surat suara, 55 persen dari karyawan Perancis menolak kesepakatan itu.
Air France-KLM sendiri merupakan salah satu maskapai penerbangan terbesar di Eropa. Maskapai ini telah mengalami serangkaian protes dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pemungutan suara, karyawan perusahaan menolak kenaikan gaji 7 persen selama empat tahun ke depan.
"Ini adalah kekacauan besar yang hanya akan membuat senyum di wajah para pesaing kami," kata Janaillac dalam konferensi pers.
Dia mengatakan dia berharap kepergiannya akan memicu kesadaran kolektif yang lebih.
Chief executive berusia 65 tahun itu diketahui telah bekerja selama kurang dari dua tahun. Dia sebelumnya berjanji untuk berhenti jika kesepakatan gaji ditolak.
Dia telah berusaha memangkas biaya di perusahaan, di tengah meningkatnya persaingan dari maskapai penerbangan bertarif rendah dan operator nasional Teluk.
[mel]
BERITA TERKAIT: