Bom bunuh diri di depan kantor pemilihan umum di Dashte Barchi, kawasan barat Kabul, Minggu (22/4), menewaskan 57 orang dan melukai 100 lainnya. Ledakan ini menyasar warga sipil yang tengah antre mendaftarkan diri untuk mengikuti pemilihan legislatif pada Oktober ini.
Korban tewas termasuk lima anak-anak dan 21 perempuan. Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang juga melukai 119 orang itu.
ISIS menyatakan bahwa pengebom bunuh diri dengan sabuk yang berisi bahan peledak
"Mereka (pemerintah) menaÂhan orang, kemudian melepasÂkannya untuk membunuh warga sipil," kecam pengguna FaceÂbook bernama Ahmad Ahmadi.
Pengguna Facebook lainÂnya menuliskan, ledakan terseÂbut terjadi di luar kantor pusat pendaftar pemilih jelang pemilu Oktober mendatang. Pengguna bernama Aminullah itu berÂkata kalau pemerintah sengaja membuat kegaduhan agar bisa memperpanjang masa jabatan mereka.
"Cara untuk segera terbeÂbas adalah dengan melakukan pemilu, dan menyingkirkan pemerintahan korup ini," kecam Aminullah.
Ledakan pada Minggu itu itu merupakan serangan keempat yang menyasar lokasi pendafÂtaran pemilih dalam sepekan terakhir.
Juru bicara Komisi Pemilihan Independen (IEC) Shafi Jalali berujar, ledakan itu tidak akan sampai mengganggu persiapan.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berjanji akan membaÂlas dan memburu kelompok yang mendalangi serangan bom bunuh diri tersebut.
"Serangan mereka tidak akan menghalangi niat kita menÂjalankan proses demokrasi dan menjadi negara yang beradab. Kami akan buru mereka yang telah merusak perdamaian negeri ini," kecam Ghani.
Pemilihan legislatif akan digeÂlar Oktober 2018, yang akan disusul dengan pemilihan presiÂden pada tahun 2019. Catatan PBB menunjukkan, pemerintah pusat di Kabul hanya menguasai sekitar 30 persen Afghani stan. Sedang selebihnya berada di bawah ancaman serius Taliban serta ISIS. ***
BERITA TERKAIT: