Osama al-Qawasmi, juru bicara Fatah, mengatakan kepada
Al Jazeera awal pekan ini bahwa senjata perlawanan adalah garis merah mereka.
"Fatah ingin berdiskusi dengan Hamas mengenai masalah keamanan," sebutnya.
"Pemerintah Palestina tidak akan bisa mengoperasikan dan melaksanakan proyek dan rencana keamanannya di Jalur Gaza jika tidak memiliki senjata keamanan," tambahnya.
Pernyataan Qawasmi tersebut menyusul sebuah konferensi pers pada hari Senin oleh seorang pejabat senior Hamas, Khalil al-Hayya, di Jalur Gaza, yang menguraikan hasil perundingan rekonsiliasi yang diadakan di Kairo beberapa hari yang lalu.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh 13 faksi politik Palestina, yang dipimpin oleh Fatah dan Hamas.
Qawasmi mengatakan bahwa pelaksanaan perjanjian rekonsiliasi yang ditandatangani pada 12 Oktober di Kairo berjalan lambat. Ia juga menambahkan bahwa Fatah sejak awal telah mempertahankan bahwa jalan untuk mengakhiri pembagian, yang berlangsung selama 11 tahun, tidak diaspal dengan bunga.
Hayya mengatakan bahwa subjek "senjata perlawanan" tidak siap untuk didiskusikan, dan bahwa mengakhiri blokade yang telah berlangsung lama, Jalur Gaza oleh Israel dan Mesir tetap menjadi prioritas.
"Hamas akan mendorong pemerintah Palestina untuk mencabut sanksi di Jalur Gaza," kata Hayya.
Ia juga meminta Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menghadiri perundingan rekonsiliasi dan untuk menetapkan tanggal pemilihan umum, yang dipersiapkan Hamas kapanpun.
[mel]
BERITA TERKAIT: