Komite Republik Selidiki Barack Obama Dan Hillary Clinton

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 25 Oktober 2017, 19:25 WIB
rmol news logo Kubu Republik Amerika Serikat bersiap menyelidiki mantan Presiden Barack Obama dan Mantan Menteri Luar Negeri yang juga rival Trump dalam pemilu Hillary Clinton.

Dalam pengumuman pekan ini, satu komite Republik akan menyelidiki bagaimana pemerintahan Obama menyetujui akuisisi 2010 yang memberi Rusia kontrol 20 perse dari pasokan uranium AS.

Dua panel lainnya akan memeriksa keputusan FBI untuk tidak menagih Clinton atas server email pribadinya.

Kedua isu yang menjadi sorotan oleh komite tersebut adalah keluhan politik Presiden Donald Trump yang sudah berlangsung lama.

Pada hari Selasa, Ketua Komite Rumah Kehakiman Bob Goodlatte dan Ketua Komite Pengawas Perbatasan Trey Gowdy mengumumkan penyelidikan ke pemerintahan sebelumnya.

Mereka mengatakan ada pertanyaan yang luar biasa tentang penyelidikan FBI terhadap mantan calon presiden dari partai Demokrat Hillary Clinton.

Anggota kongres tersebut mengatakan bahwa mereka ingin tahu mengapa mantan direktur FBI James Comey memilih untuk membocorkan penyelidikan tersebut kepada Clinton, tapi bukan tentang pembantu Trump dan Rusia.

Di hari Selasa (24/10) Devin Nunes, ketua Komite Intelijen House dari Partai Republik, mengumumkan penyelidikan panelnya mengenai penjualan sebuah perusahaan pertambangan Kanada yang memiliki tambang di Amerika Barat.

Uranium One, yang memiliki seperlima persediaan uranium AS, diakuisisi tujuh tahun yang lalu oleh perusahaan milik negara Rusia Rosatom.

Departemen Luar Negeri AS, di bawah bekas Menteri Luar Negeri Hillary Clinton membantu menyetujui kesepakatan tersebut. Demikian seperti dimuat BBC. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA