Dengan demikian, hingga Agustus ini, setidaknya ada 189 penyelidikan yang dilakukan terhadap mereka yang dicurigai melakukan tindak pidana terorisme.
Dikabarkan
Russia Today akhir pekan ini, merujuk pada media Belgia, fokus perhatian dalam penyelidikan tahun ini berbeda dari penyelidikan tahun-tahun sebelumnya pada ekstrimis yang meninggalkan Belgia untuk berperang bersama kelompok teroris di Timur Tengah. Fokus penyelidikan sepanjang tahun ini adalah pada individu atau kelompok di dalam negeri yang tidak pernah pergi ke Suriah ataupun Irak, namun menjadi bibit ekstrimis.
Investigasi juga dibuka dalam kasus di mana warga Belgia menjadi korban serangan teroris di negara lain, seperti Spanyol, Turki atau Swedia. Pihak berwenang Belgia mengatakan bahwa risiko serangan teroris di negara tersebut tetap tinggi.
Semua petugas penegakan hukum dan keamanan Belgia, mulai dari polisi hingga dinas keamanan negara bekerja pada penanganan terorisme dalam negeri dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang ancaman teroris yang mungkin terjadi.
Mereka menambahkan bahwa Kantor Kejaksaan Federal baru-baru ini diperkuat melalui peningkatan jumlah hakim dari 24 menjadi 32, dan 12 di antaranya sekarang bekerja hanya untuk kasus-kasus yang terkait dengan terorisme.
Belgia dilanda salah satu serangan teroris terburuk di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, terutama pasca serangan Maret 2016 di mana ada serangan bom bunuh diri di Bandara Brussels dan metro kota tersebut menewaskan 32 orang dan membuat lebih banyak korban terluka.
Belgia juga memiliki populasi migran yang cukup besar dan merujuk pada sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Penanggulangan Terorisme yang berbasis di Den Haag April 2016 lalu, jumlah pejuang per kapita terbesar yang tersisa untuk bergabung dengan teroris di Irak dan Suriah.
[mel]
BERITA TERKAIT: