Anak-anak tersebut diimuniasai dengan jarum suntik yang sama dan tidak steril. Bukan hanya itu, vaksin campak tersebut pun tidak disimpan dengan benar.
Fakta-fakta tersebut ditemukan dalam sebuah penyelidikan setelah kasus kematian terjadi.
Bukan hanya itu, menurut Menterian Kesehatan negara tersebut, Riek Gai Kok, tim yang mengelola vaksin di daerah tersebut pun tidak memiliki kualifikasi dan tidak terlatin untuk melakukan imunisasi.
Akibatnya, kampanye imunisasi menyebabkan infeksi dan sepsis bagi anak-anak tersebut.
Sepsis adalah respon kekebalan yang berpotensi mematikan yang dipicu oleh infeksi yang menyebar dengan cepat di tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan organ multipel dan kematian.
Sekitar 300 orang divaksinasi selama kampanye di wilayah Kapoeta, termasuk 32 anak lainnya yang jatuh sakit, namun bertahan hidup.
Wabah campak di negara ini merupakan target utama dana anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), yang bertujuan untuk memvaksinasi 1,2 juta anak-anak tahun ini.
Namun sebuah laporan dari Associated Press mengatakan bahwa dalam kasus ini, ada anak-anak yang berusia 12 tahun yang ikut mengelola vaksin tersebut kepada orang lain.
Sudan Selatan mengumumkan kemerdekaan pada tahun 2011, namun telah berjuang untuk mempertahankan layanan dasar, termasuk perawatan kesehatan, setelah perang sipil meletus pada tahun 2013.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan lebih dari satu juta anak telah melarikan diri dari negara tersebut selama konflik tersebut, dan satu juta lainnya mengungsi di negara ini.
[mel]
BERITA TERKAIT: