Pangeran Arab: Iran Berambisi Kendalikan Dunia Islam

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 03 Mei 2017, 20:29 WIB
Pangeran Arab: Iran Berambisi Kendalikan Dunia Islam
Mohammed bin Salman al-Saud/The Guardian
rmol news logo Wakil Putra Mahkota Arab Saudi, bagaimana Mohammed bin Salman al-Saud mengatakan tidak ada ruang untuk berdialog dengan Iran karena ambisinya untuk "mengendalikan dunia Islam".

Hal itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara pekan ini yang ditayangkan di beberapa saluran TV Saudi dan dikabarkan ulang The Guardian.

Pangeran berusia 31 tahun, yang dinobatkan pada tahun 2015 oleh ayahnya, Raja Salman, sebagai pewaris takhta terakhir, saat ini diketahui adalah menteri pertahanan Arab Saudi. Ia memiliki peran besar dalam mengawasi perang di Yaman melawan kelompok pemberontak yang sesuai dengan Iran. Dia juga mengawasi masalah ekonomi dan berada di balik program berani untuk merombak ekonomi Saudi.

Membingkai ketegangan dengan Iran dalam hal sektarian, dia mengatakan bahwa ini adalah tujuan Teheran "untuk mengendalikan dunia Islam" dan menyebarkan doktrin Syiah.

Ketika ditanya apakah dia melihat kemungkinan untuk berdialog langsung dengan Iran, pangeran tersebut menjawab, "Bagaimana saya bisa memahami seseorang, atau sebuah rezim, yang memiliki kepercayaan yang teguh yang dibangun di atas ideologi ekstremis? Apa kepentingan di antara kita? Bagaimana saya bisa memahami hal ini?" katanya.

Persaingan Iran dan Arab Saudi telah terjadi dalam perang proxy di seluruh wilayah tersebut. Mereka berada di sisi yang berlawanan dalam perang di Suriah dan Yaman dan mereka mendukung saingan politik di Lebanon, Bahrain dan Irak. Konflik telah memperdalam permusuhan Sunni-Syiah antara kelompok garis keras di kedua belah pihak.

Hubungan antara Arab Saudi dan Iran telah tegang sejak revolusi 1979 di Iran, dengan masing-masing pihak bersaing menjadi kekuatan yang lebih kuat di dunia Muslim. Ketegangan meningkat pada tahun lalu, dengan eksekusi ulama Syiah setempat yang menyebabkan pembobolan kedutaan Saudi di Iran oleh pemrotes. Kedua negara memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan.

"Kami tahu kami adalah target utama Iran," kata Pangeran Mohammed.

"Kami tidak menunggu sampai ada pertempuran di Arab Saudi, jadi kami akan bekerja sehingga menjadi pertempuran bagi mereka di Iran dan bukan di Arab Saudi," tegasnya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA