Penyerangan itu dilakukan di tengah meningkatnya konflik teritorial yang terjadi di wilayah tersebut.
Dalam aksi penyerangan tersebut, para petani membawa senjata berupa senapan dan parang. Beberapa di antara mereka bahkan tega melukai penduduk asli hingga memutuskan tangan dan kaki sejumlah korban.
Setidaknya ada 13 anggota penduduk lokal Gamela dirawat di rumah sakit setelah serangan tersebut.
Di antara korban luka terdapat pemimpin kelompok tersebut, Kum "Tum Gamela", mantan pastor dan koordinator Komisi Tanah Pastoral yang telah menerima banyak ancaman pembunuhan saat mengkampanyekan hak-hak tanah rakyatnya.
Pekan lalu diketahui sejumlah penduduk Gamela menempati wilayah yang mereka klaim sebagai wilayah tradisional. Namun wilayah tersebut diambil selama kediktatoran militer (1964-85), terbagi di antara pemilik tanah lokal, dan sekarang terutama digunakan sebagai padang rumput untuk ternak.
Namun Gamela, sebuah kelompok yang terdiri dari sekitar 400 keluarga yang tidak pernah meninggalkan daerah tersebut, bersikeras bahwa tanah tersebut telah dicuri, dan sejak tahun 2014 mereka telah meningkatkan kampanye untuk bisa dikembalikan.
[mel]
BERITA TERKAIT: