Dalam kebijakan baru itu disebutkan bahwa untuk pertama kalinya sebuah kesediaan untuk menerima sebuah negara Palestina sementara dalam batas-batas sebelum tahun 1967, tanpa mengakui Israel.
Ditegaskan juga dalam dokumen itu bahwa perjuangan Hamas bukan dengan orang Yahudi tapi dengan agresor Zionis yang menduduki wilayah mereka.
Dokumen kebijakan baru tersebut merupakan upaya Hamas yang menguasai wilayah Gaza Palestina untuk memperlunak citranya.
"Dokumen memberikan kita kesempatan untuk terhubung dengan dunia luar," kata juru bicara Hamas Fawzi Barhoum seperti dimuat
BBC.
"Pesan kita adalah bahwa Hamas tidak radikal. Kita adalah pergerakan pragmatis dan didorong oleh kekuatan sipil. Kita tidak membenci Yahudi. Kita hanya berjuang kepada mereka yang menduduki lahan kami dan membunuh orang-orang kami," sambungnya.
Sejumlah analis menilai bahwa langkah ini dibuat oleh Hamas untuk memperbaiki hubungan dengan dunia luar, termasuk Mesir dan negara-negara Teluk.
Diketahui bahwa Israel telah menduduki wilayah Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur sejak Perang 1967. Israel menarik pasukannya keluar dari Gaza pada tahun 2005, namun masih mengendalikan ruang udara dan perairan di sekitarnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: