Bahkan sebelum Trump memerintahkan serangan ke Suriah pekan lalu, rencana kunjungan Tillerson telah dibebankan dengan sejumlah isu pelik seperti gangguan Rusia di Pemilu Amerika Serikat tahun 2016, serta perang melawan kelompok militan ISIS.
Sekarang, Tillerson semakin dibebankan dengan isu Suriah yang pekan lalu ada serangan gas kimia dan disusul langkah Amerika Serikat menyerang pangkalan udara Suriah.
Kremlin sendiri awal pekan ini mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa Tillerson tidak dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama kunjungannya, dan hanya untuk bertemu dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov.
Tillerson sendiri, seperti dimuat
Reuters, mengatakan bahwaia tidak melihat bukti kuat bahwa Rusia tahu sebelumnya tentang serangan senjata kimia, yang menewaskan sedikitnya 70 orang, namun ia berencana untuk mendesak Moskow untuk memikirkan kembali dukungannya bagi Assad.
"Saya berharap bahwa kita dapat memiliki pembicaraan konstruktif dengan pemerintah Rusia, dengan Menteri Luar Negeri Lavrov dan mengajak Rusia mendukung proses yang akan mengarah ke Suriah stabil," kata Tillerson.
[mel]
BERITA TERKAIT: