Hari Kamis kemarin (12/11), dua anggota keluarga Presiden Maduro ditangkap pihak Amerika Serikat dan dituduh terlibat dalam konspirasi penyelundupan obat-obatan terlarang.
Efrain Antonio Campo Flores (29) dan Franqui Francisco Flores de Freitas (30) ditangkap Badan Anti Narkotika AS (DEA) di ibukota Haitian, Port-au-Prince, saat mereka sedang membahas proses mengirimkan 800 kilogram narkoba ke AS.
Salah seorang dari yang ditangkap itu dibesarkan oleh
First Lady Cilia Flores, sementara seorang lagi adalah sepupunya.
Dalam keterangan DEA, seperti dikutip dari
CNN, Campo dan Flores de Freitas ikut dalam sebuah pertemuan di Venezuela yang membahas proses pengiriman kokain ke Amerika Serikat melalui Honduras.
Kedua kerabat Presiden Maduro itu disebutkan tidak mengajukan keberatan dalam pemeriksaan di pengadilan di Manhattan, Kamis malam.
Hakim yang menangani kasus itu memerintahkan keduanya ditahan.
Kantor Jaksa Distrik Selatan di New York City mengatakan, bila semua tuduhan terbukti, maka kedua kerabat Presiden Maduro itu akan menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup.
Ketika ditangkap, kedua kerabat Maduro memegang paspor diplomatik dan secara terbuka mengakui hubungan kekerabatan mereka dengan orang nomor satu di Venezuela itu. Keduanya juga sempat mengatakan bahwa mereka memiliki kekebalan diplomatik.
Menurut
CNN pemerintah Venezuela tidak bersedia memberikan komentar mengenai hal ini.
Maduro dan istrinya Flores menikah bulan Juli 2013, beberapa waktu setelah dia dilantik menggantikan Hugo Chavez yang meninggal dunia.
Sebelum resmi menikah, Maduro dan Flores sudah tinggal bersama dan merupakan bagian dari kelompok inti rezim Chavez. Pada tahun-tahun terakhir Chavez, Maduro adalah wakil presiden dan menteri luar negeri. Sementara Flores adalah Jaksa Agung.
[dem]
BERITA TERKAIT: