Penelitian yang dilakukan oleh Cambridge University itu menunjukkan bahwa pesan teks, gampar, video, maupun email pribadi yang tersimpan di dalam perangkat android masih bisa dipulihkan bahkan setelah perangkat di atur ulang (reset) ataupun dikembalikan ke setelan pabrik.
Itu berarti, pemilik android yang memberikan perangkatnya ke orang lain atau menjualnya, memiliki resiko bahwa data pribadi mereka bisa sewaktu-waktu dibuka oleh pemilik baru perangkat tersebut.
Bukan hanya itu, pemilik baru perangkat android itu juga bahkan masih bisa mengakses aplikasi pihak ketiga (third party) yang sebelumnya pernah diinstal di perangkat tersebut. Diketahui bahwa saat ini banyak pengguna ponsel yang menyimpan informasi keuangan dan melakukan transaksi perbankan melalui beberapa aplikasi populer baik di perangkat tablet maupun smartphone android mereka. Hal itu berpotensi disalahgunakan oleh pemilik perangkat android yang baru.
Hal lain yang juga ditemukan oleh tim peneliti dalam penelitian yang sama adalah bahwa otentikasi Google memungkinkan layanan tersebut untuk mengakses layanan yang disinkronisasikan di sejumlah perangkat, termasuk Gmail, YouTube, dan setiap gambar atau video yang disimpan menggunakan layanan cloud Google.
Penelitian itu dilakukan dengan pengujian pada sejumlah perangkat android bekas yang dibeli di situs online, eBay dengan berbagai versi software android.
"Ekstraksi data dari perangkat yang dijual kembali adalah ancaman yang muncul saat lebih banyak pengguna membeli perangkan bekas (second)," kata tim peneliti dalam laporannya seperti dimuat
Daily Mail (Sabtu, 23/5).
"Jika pengguna khawatir soal data mereka, mereka sebaiknya tidak menjual perangkat lama mereka dan menghentikan pembelian perangkat baru. Atau mereka juga bisa meng-upgrade perangkat mereka ke versi yang lebih baru, namun tetap waspada pada layanan dan aplikasi sensitif di perangkatnya," kata laporan yang sama.
[mel]
BERITA TERKAIT: