Jumlah tersebut cukup mencengangkan, pasalnya jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal Perang Bosnia (1992�"1995) di mana pada saat itu ada hampir 900 ribu orang mencari suaka.
Menurut Ketua Komisaris Tinggi PBB untuk pengungsi Antonio Guterres dalam laporan terbaru bertajuk "Asylum Tren 2014", konflik yang masih terus berlangsung di Irak dan Suriah berpengaruh besar dalam lonjakan pencari suaka tersebut.
"Hari ini, lonjakan dalam konflik bersenjata di seluruh dunia menyajikan kita dengan tantangan serupa, khususnya situasi dramatis di Suriah," jelasnya seperti dimuat
Channel News Asia (Kamis, 26/3).
Dalam laporan yang sama ia menyebut bahwa Suriah merupakan penyumbang pencari suaka. Hampir 150 ribu warga Suriah mencari klaim suaka di 44 negara industri pada tahun lalu. Bila dibuat perbandingan, dari setiap lima klaim pengajuan suaka, satu di antaranya adalah warga Suriah.
Di posisi kedua adalah Irak dengan 68.700 klaim pencari suaka pada tahun lalu. Jumlah itu meningkat hampir dua kali lipat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Di urutan selanjutnya adalah Afghanistan, Serbia, Kosovo, dan Eritrea.
Sementara itu, Jerman menjadi negara di posisi pertama yang paling banyak menerima aplikasi suaka. Pada tahun lalu, Jerman menerima sekitar 173 ribu pengajuan suaka. Seperempat di antaranya berasal dari Suriah.
Kemudian Amerika Serikat ada di posisi kedua karena telah menerima sekitar 121.200 pengajuan aplikasi suaka tahun lalu. Sebagian besar di antaranya adalah orang-orang yang melarikan diri dari kelompok kekerasan dan obat-obatan di Meksiko dan Amerika Tengah.
Selanjutnya adalah Turki yang telah menerima sekitar 87.800 permintaan suaka tahun lalu.
Italia pada tahun lalu menerima 63.700 permintaan suaka dan Australia menerima kurang dari 9 ribu pengajuan suaka tahun lalu.
[mel]
BERITA TERKAIT: