Pernyataannya itu mulanya dinilai sebagai sebuah lelucon politik, namun di sisi lain justru dinilai mengolok-olok aksen dan cara bicara warga Tiongkok.
Menurutnya, warga Tiongkok tampak berupaya keras untuk bisa menyebut kata
rice,
petroleum, dan
campora yang semuanya mengandung huruf "r". Campora Sendiri berati nama Spanyol yang diberikan kepada sayap pemuda dari partai politiknya.
"Lebih dari 1.000 partisipan dalam acara itu. Apakah mereka semua dari
Campola dan di dalamnya hanya untuk
lice serta
petloleum?" tulisnya di akun twitternya.
Bagi para pendukung politiknya, seperti dimuat
BBC (Kamis, 5/2), pernyataan itu merupakan lelucon politik. Makna dari pernyataan itu adalah, Fernandez menuding bahwa pendukung partai politiknya ikut menghadiri acara di Tiongkok hanya sekedar untuk bisa mendapatkan sandwich dan minuman ringan gratis.
Namun ia sengaja memplesetkan kata
rice,
petroleum, dan
campora itu dengan mengganti huruf "r" menjadi "l". Hal itu dinilai mengejek warga Tiongkok yang aksennya tidak terlalu fasih mengucapkan huruf "r".
Salah seorang pengguna akun twitter
@FaundezLafarga menulis bahwa Fernandez kurang memiliki rasa hormat.
"Ia pergi ke Tiongkok untuk mencari kesepakatan ekonomi dan ia mengolok-olok aksen mereka," tulisnya.
Komentar senada dilontarkan oleh jurnalis Financial Times,
@GuyChazan.
"Ini semacam lelucon yang keluar dari gaya tahun 70an," sebutnya.
Namun dari pihak Tiongkok sendiri tidak ada komentar resmi terkait hal tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: