Abadi memberhentikan sejumlah besar komandan militer demi meningkatkan moral pasukan Irak memerangi kelompok bersenjata Negara Islam Irak-Levant atau ISIS yang sudah merebut banyak wilayah di seluruh Irak.
Al Jazeera melaporkan dari Baghdad, sebanyak 36 perwira tingkat tinggi terkena dampak keputusan itu. Sebanyak 26 dipindahtugaskan, sedangkan 10 lainnya dipaksa untuk pensiun.
Seorang perwira senior di Kementerian Pertahanan Irak mengungkapkan, melalui kebijakan itu Abadi mengirim pesan kepada pasukan di garis depan bahwa mereka berjuang untuk persatuan Irak.
"Dan ini adalah sinyal bahwa nilai-nilai sektarian sudah berakhir dalam angkatan bersenjata Irak," tegas sumber itu kepada
Al Jazeera.Selama lebih dari satu dekade Irak berjuang meredam kekerasan dan perselisihan bernuansa sektarian. Kini keharusan untuk bersatu itu semakin kuat karena semakin besarnya ISIS yang telah menguasai sepertiga dari negara kaya minyak itu. Saat ini, tentara Irak yang didukung oleh pasukan udara Amerika Serikat, masih tergopoh-gopoh menghadapi gerakan ISIS
Hamed al-Mutlaq, seorang politisi Sunni Irak, mengatakan bahwa langkah PM Abadi ini adalah gebrakan positif dan pada gilirannya akan memberikan lebih banyak kekuatan untuk aparat keamanan.
"Ada kebutuhan untuk perubahan dan 'darah segar'," kata al-Mutlaq.
Haider al-Abadi sendiri bukan sosok baru di pemerintahan Irak. Memang ia sempat lama meninggalkan tanah kelahirannya setelah menerima gelar sarjana pada 1975. Abadi belajar di University of Manchester, Inggris dan menerima gelar doktor teknik elektro di sana.
Namun, dia kembali ke negaranya setelah Saddam Husein jatuh, dan kemudian menjabat Menteri Komunikasi di pemerintahan sementara pada tahun 2003.
[ald]
BERITA TERKAIT: