"Batalyon Tiongkok belum berada di sana (Sudan), tapi kita memiliki perusahaan teknik di Tiongkok dan kita juga memiliki rumah sakit tingkat 2 Tiongkok," kata utusan khusus PBB untuk Sudan Selatan Ellen Margrethe di New York (Rabu, 22/10) dikutip
Reuters.
Ia menyebut, saat ini telah ada 10.488 pasukan yang dikerahkan di Sudan Selatan. Misi khusus PBB di Sudan Selatan memandatkan untuk setidaknya ada 12.500 pasukan penjaga perdamaian di negara yang baru memerdekakan diri dari Sudan tahun 2011 lalu. Sejak saat itu ada sengketa kekuasaan antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya Riek Machar.
Sejak saat itu, terjadi konflik antara dua kubu pendukung tokoh tersebut yang menewaskan lebih dari 10 ribu orang dan menyababkan satu juta orang melarikan diri dari rumahnya. Bukan hanya itu, bahkan sekitar 11 juta orang saat ini hidup kelaparan di Sudan Selatan.
Margrethe menjelaskan, pihaknya mencoba agar bantuan baik pasukan ataupun peralatan bisa dikerahkan sebelum akhir tahun ini.
"Kabar terakhir yang saya dengar, tidak akan (dikerahkan) hingga awal tahun tapi kami mencoba untuk menarik semua pasukan dari negara-negara yang berkontribusi termasuk Tiongkok, Ethiopia, Rwanda dan lainnya untuk memberikan pasukan dna peralatan yang mereka miliki lebih awal," sambungnya.
Tiongkok bulan lalu telah mengumumkan akan mengirimkan pasukan untuk melindungi warga sipil di tengah konflik yang masih terjadi di Sudan Selatan. Ini adalah kali pertama Tiongkok memberikan kontribusi batalyonnya dalam jumlah besar ke misi pernjaga perdamaian PBB.
[mel]
BERITA TERKAIT: