Pasalnya, sejak serangan udara dilancarkan Israel ke wilayah Gaza, wisatawan secara massal meninggalkan Israel ataupun membatalkan rencana perjalanan ke Israel. Hal itu diperkirakan menyebabkan kerugian hingga ratusan juta dolar AS.
"Tantangan kita adalah bagaimana mencegah agar tidak ada lebih banyak pembatalan lagi. Meskipun sebulan pasca perang berlalu, masih ada gambaran di benak para wisatawan bahwa tidak aman untuk melakukan perjalanan di sini," kata seorang anggota Israel Incoming Tour Operators Association, Oded Grofman dikutip
Associated Press (Minggu, 28/9).
Diketahui Israel mulai melancarkan serangan roket ke wilayah Gaza pada 8 Juli lalu yang kemudian dibalas oleh kelompoh Hamas di Gaza. Serangan yang menyisakan 2.100 korban jiwa dari kubu Palestina dan 72 jiwa dari kubu Israel itu baru berakhir pada 26 Agustus dengan perjanjian gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas.
Menurut catatan, serangan roket yang dibalas oleh Hamas ke wilayah Israel tidak satupun mengenai lokasi-lokasi pariwisata, karena Israel kerap kali berhasil menghalau serangan roket berkat sistem Iron Dome yang dimilikinya. Akan tetapi, di tengah konflik, tercatat salah satu roket dari Hamas sempat berhasil mendarat di dekat bandara internasional Israel. Akibatnya, aktivitas penerbangan sempat ditunda selama 48 jam. Selain itu, akibat konflik yang terjadi, sejumlah maskapai penerbangan internasional juga ada yang menghentikan sementara operasi penerbangan dari dan ke Israel mengingat alasan keamanan.
Sebelum konflik terjadi, Israel telah menargetkan tahun ini sebagai tahun untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung. Diketahui, pasca intifada terakhir yang dilakukan Palestina hampir satu dekade terakhir, Israel mulai membenahi sektor pariwisatanya. Pada tahun 2013 lalu saja, misalnya, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Israel mencapai angka 3.6 juta. Industri pariwisata Israel, diperkirakan meraup 5 triliun dolar AS dan menyediakan lebih dari 110 ribu lapangan pekerjaan di negara tersebut.
Namun, akibat konflik 50 hari, jumlah wisatawan asing yang datang ke Israel menurun drastis mencapai 31 persen bila dibandingkan dengan tahun 2013 lalu.
Pada bulan agustus saja, misalnya, jumlah wisatawan asing menurun hingga 36 persen bila dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu. Jumlah wisatawan asing yang datang ke Israel di bulan itu merupakan yang terendah sejak Februari 2009 lalu.
Dampaknya, Kementerian Pariwisatan Israel diprediksi kehilangan lebih dari 544 juta dolar AS.
Bukan hanya itu, terganggunya sektor pariwisata juga mengganggu mata pencaharian para pedagang di tujuan wisata.
"Ketika Perang Gaza dimulai, kami menurun," kata salah seorang pedagang di Kota Tua Yerusalem Kevork Kahvedjian.
Ia menekankan, ia mengalami kerugian hingga 90 persen.
"Tidak ada seorang pun. Seolah-olah sedang diberlakukan jam malam atau apapun," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: