Perlu diketahui, ketigabelas negara yang tergabung dalam TRC itu adalah Bangladesh, Bhutan, Cina, Kamboja, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand dan Vietnam.
Dalam pertemuan bertemuan bertajuk The 2nd Stocktaking Conference of The Global Tiger Recovery Program (GTRP) di Dhaka digelar untuk mengevaluasi kemajuan bersama ketigabelas negara dalam proses mencapai tujuan untuk menggandakan populasi harimau pada tahun 2022 mendatang atau yang dikenal dengan istilah Tx2.
Pertemuan itu sekaligus bentuk lanjutan dari kesepakatan Tiger Summit di St.Petersburg Rusia pada tahun 2010 lalu. Saat itu, TRC menyetujui rencana global pemulihan populasi harimau.
"Kita sudah hampir mencapai sepertiga jalan menuju target penggandaan populasi harimau," kata WWF Tiger Alive Initiative Leader, Mike Baltzer dalam rilis yang diterima redaksi (Jumat, 12/9).
WWF sendiri bertepatam dengan Global Tiger Day yang diperingati 29 Juli lalu menyerukan kepada seluruh negara TRC untuk menghitung jumlah populasi harimau masing-masing. Sehingga angka perkiraan populasi dapat diperbaharui. WWF juga menggarisbawahi, ancaman paling berbahaya bagi harimau saat ini adalah maraknya perburuan liar. Sepanjang tahun 2000 hingga 2014, menurut statistik dari jaringan pemantau perdagangan satwa liar TRAFFIC, setidaknya ada 1590 harimau yang telah disita.
"Banyak pihak yang membantu dan berperan dalam upaya menggandakan populasi Harimau Sumatera di Indonesia, terutama dari kalangan masyarakat madani. Namun untuk mencapai target Tx2, pemerintah dan masyarakat harus lebih serius mendukung komitmen ini," kata Direktur Sumatera dan Borneo WWF Indonesia Anwar Purwoto.
"WWF-Indonesia siap mendorong tumbuhnya komitmen Tx2 yang lebih kuat di Indonesia, khususnya di pemerintahan baru," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: