Menurut laporan kelompok bantuan Save the Children, penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 2.600 orang ini telah menewaskan setidaknya 60 orang sejak kasus pertama dilaporkan terjadi di wilayah Juba pada bulan Mei
Stuasi tersebut diprediksi dapat menjadi lebih buruk dengan adanya huja lebat yang masih akan terjadi dalam beberapa minggu mendatang.
Kelompok bantuan itu menyerukan agar adanya pasokan obat-obatan yang lebih besar.
"Banjir Stagnan memberikan kondisi sempurna untuk penyebaran cepat dari kolera dan jalanan berubah menjadi lumpur, menghambat upaya untuk mendapatkan dukungan dan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa kepada mereka yang sangat membutuhkan," kata direktur Save the Children untuk wilayah Sudan Selatan, Pete Walsh seperti dikabarkan
Al Jazeera pada Jumat (11/7).
Ia menambahkan, penyebaran wabah tersebut sangat luas dan memprihatinkan.
"Terutama yang berasal dari krisis kelaparan yang tumbuh dan ratusan ribu orang yang berjuang untuk bertahan hidup di penuh sesak, kamp-kamp tidak sehat," sambungnya,
Negara yang baru merdeka tahun 2011 lalu itu diketahui mengalami krisis kemanusiaan pasca konflik internal yang dimulai sejak Desember lalu di mana Presiden Salva Kiir menuduh mantan wakilnya pada saat itu Riek Machar hendak melakukan percobaan kudeta.
Gencatan senjata yang disepakati awal tahun ini telah berulang kali dilanggar oleh keduanya belah pihak.
Akibat konflik yang terjadi, setidaknya 400 ribu warga Sudan Selatan meninggalkan negara mereka untuk mencari perlindungan di Ethiopia, Uganda, Kenya dan Sudan. Sedangkan lebih dari satu juta orang lainnya bertahan di kamp-kamp pengungsian dalam negeri.
[mel]
BERITA TERKAIT: