"Kami berada pada saat yang sangat penting bagi Afghanistan," kata Kerry usai bertemu dengan Kepala Misi Bantuan PBB Jan Kubis di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kabul.
Dalam kunjungannya tersebut, Kerry berupaya untuk merenggangkan ketegangan pasca hasil pemilu sementara diumumkan dan memunculkan Ashraf Ghani sebagai pemenang.
Dalam kunjungan singkatnya, Kerry juga menggelar pembicaraan dengan dua calon presiden yang bersengketa yakni Abdullah Abdullah dan Ashraf Ghani. Ia juga bertemu dengan Presiden Afghanistan saat ini Hamid Karzai.
Kerry menyebut, Amerika Serikat khawatir atas adanya laporan yang menyebut bahwa Abdullah yang kalah dalam pemilu berencana membuat pemerintah paralel.
Terkait sengketa hasil pemilu itu, Amerika Serikat sebelumnya telah memperingatkan bahwa Afghanistan akan kehilangan dukungan keamanan serta finansial bila ada pihak yang mengambil alih kekuasaan di Afghanistan secara ilegal.
Untuk diketahui, hasil awal pemilu Afghanistan menunjukkan bahawa Ghani unggul dengan perolehan 56.44 persen dari Abdullah yang memperoleh 43.56 persen suara.
Akibat sengketa hasil awal pemilu itu, dikabarkan
BBC, Komisi Pemilihan Umum Afghanistan harus melakukan perhitungan suara ulang di lebih dari tujuh ribu TPS. Hasil akhir perhitungan suara itu sendiri akan resmi ditetapkan apda tanggal 22 Juli mendatang.
[mel]
BERITA TERKAIT: