Beberapa jenis bahan bakar bahkan dikabarkan
BBC (Sabtu, 5/7) naik hingga 78 persen dari harga sebelumnya. Sedangkan tarif dasar listrik naik hampir dua kali lipat.
Pemerintah Mesir sebelumnya diketahui menjual listrik dengan harga kurang dari setengah biaya produksi. Hal itu menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan biaya subsidi yang lebih tinggi.
Akibat subsidi yang tinggi, pemeliharaan serta perluasan kapasitas listrik di Mesir menjadi terabaikan. Sehingga pemadaman listrik menjadi hal yang umum terjadi di negeri piramida itu.
Pemerintah Mesir berdalih, peningkatan tarif listrik dan harga bahan bakar itu dilakukan untuk mengurangi subsidi dan mengurangi beban masyarakat miskin.
Sebelumnya, Menteri Penyediaan Mesir Khalid Hanafi pada Kamis (3/7) berupaya menenangkan masyarakat yang khawatir bahwa kenaikan tersebut akan berimbas pada lonjakan harga bahan makanan dan juga transportasi.
Hanafi menyebut bahwa kenaikan tarif listrik dan harga bahan bakar hanya akan memberika sedikit pengaruh pada harga kebutuhan pokok lainnya.
Perekonomian Mesir sendiri diketahui mengalami penurunan sejak lima tahun terakhir di mana kerusuhan politik terjadi di dalam negati.
Pada tahun keuangan terakhir, Mesir diketahui memiliki defisit anggaran sebesar 14 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan memiliki hutan publik melebihi 100 persen dari PDB.
Presiden terguling Mohammed Morsi gagal mendapatkan pijaman sebesar 4,8 milyar dolar AS dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menangani maslah perekonomian Mesir itu.
Pemerintahan baru Mesir saat ini telah diprediksi oleh sejumlah pengamat akan membawa reformasi baru, termasuk di dalam sektor-sektor sensitif seperti subsidi bahan bakar, transportasi, serta pangan dan agrikulutur.
[mel]
BERITA TERKAIT: