Dalam pertemuan itu Ryabkov memberikan ucapan selamat kepada Assad yang terpilihnkembali sebagai presiden untuk ketiga kalinya dalam Pemilu 3 Juni lalu.
Sementara itu, Assad mengungkapkan rasa terima kasih terhadap dukungan Rusia dan menekankan bahwa pemerintahannya mau terus bekerja sama terkait isu-isu yang menyangkut kepentingan kedua negara. Assad juga menggarisbawahi bahaya yang tumbuh dari terorisme dan radikalisme, serta ancaman bagi keamanan dan stabilitas regional.
Dia meminta semua negara yang bersangkutan untuk berdiri bersama-sama, dan memerangi terorisme dengan segala cara yang mungkin bisa dilakukan.
Menanggapi pernyataan Assad, Ryabkov menegaskan bahwa Rusia tidak akan berpangku tangan terhadap terorisme merajalela di Suriah.
"Rusia tidak akan berpangku tangan terhadap upaya kelompok-kelompok untuk menyebarkan terorisme di Suriah," kata Ryabkov dalam konferensi persnya di ibukota Damaskus, tanpa merinci bagaimana negaranya akan bereaksi terhadap isu-isu tersebut, seperti dikutip kantor berita resmi Suriah,
SANA.
Dia juga mengatakan terorisme sangat tidak dibenarkan, harus diperangi dan dihilangkan terlepas dari keadaan apapun atau berada di bawah naungan apapun, mengacu pada serangan terbaru yang dipimpin oleh Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL), sebuah kelompok militan jaringan Al-Qaida.
Tidak hanya itu, Ryabkov juga mendesak upaya lebih, langkah-langkah terpadu, dan posisi yang kuat dari semua pihak guna mengubah gelombang terorisme.
[wid]
BERITA TERKAIT: