"Banyak orang yang terancam di Sahel. Kebutuhan mereka besar sehingga tidak ada lembaga atau organisasi yang dapat menanganinya sendiri," kata Kepala bidang Kemanusiaan PBB, Valerie Amos dalam pertemuan di Roma, Senin (3/2).
Ia menyebut bahwa sekitar 20 juta orang saat ini berada pada risiko kerawanan pangan di Sahel. 2,5 juta di antaranya membutuhkan bantuan pangan mendesak demi mempertahankan hidup.
Sekitar 1,2 juta warga Sahel terpaksa mengungsikan diri dari rumahnya demi menghindari aksi kekerasan serta konflik yang terjadi. Hal tersebut memicu masalah krisis pengungsi yang berlarut-larut. Lebih dari itu, sekitar lima juta anak di bawah lima tahun diperkirakan menderita gizi buruk tahun ini.
Penyebab lainnya adalah pertumbuhan peduduk di wilayah yang melebihi produksi makanan di tahun 2013. Hal tersebut menyebabkan makanan sulit diperoleh dan harga pangan tinggi si sejumlah pasar.
"Prioritas pertama kami adalah untuk memastikan bahwa petani di Sahel memiliki musim tanam yang sukses dalam beberapa minggu mendatang, memberikan mereka pemasukan hasil pertanian segera," jelas Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organisation (FAO), Jose Graziano.
"Tanggung jawab kami adalah juga untuk memastikan bahwa kekeringan berikutnya tidak akan menyebabkan krisis kemanusiaan besar lainnya dengan memproduksi varietas benih bermutu, merehabilitasi lahan pertanian yang terdegredasi, mengelola air hujan dan mendukung irigasi skala kecil," lanjutnya.
Sahel merupakan kawasan di Afrika yang terdiri dari sembilan negara, yakni Burkina Faso, Kamerun, Chad, Gambia, Mali, Mauritania, Niger, Nigeria, dan Senegal. Demikian seperti diberitakan
Middle East Online.
[rus]
BERITA TERKAIT: