Dari 15 korban tewas tersebut, berdasarkan data terbaru dari badan kesehatan setempat, tiga di antaranya tewas ketika dilarikan ke rumah sakit akibat luka kritis yang dialaminya.
Sementara korban selamat berjumlah 41 orang, 27 di antaranya tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena luka yang dialami. Satu di antara 27 korban luka tersebut adalah seorang bayi berusia sekitar 3-5 tahun yang mengalami koma.
Insiden peledakan di dalam bus terjadi sehari selang peledakan bom bunuh diri yang terjadi di pintu masuk lorong stasiun kerea api di kota yang sama. Pada Minggu (29/12), sebuah bom bunuh diri juga terjadi di depan pintu stasiun dekat dengan pendeteksi logam. Akibat kejadian tersebut, 17 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Pelaku aksi bom bunuh diri tersebut diidentifikasi adalah seorang wanita.
Dari total dua ledakan bom yang terjadi dua hari berturut-turut di kota Volgograd tersebut, Wakil Kepala Kementerian Darurat, Valdimir Stepanov menyebut bahwa total korban tewas mencapai 32 orang. "Berdasarkan laporan terbaru, 104 orang terluka dalam dua kejadian tersebut, 32 orang tewas," katanya seperti dikutip
Russia Today.
Sementera itu, Menteri Luar Negeri Rusia menghubungkan insiden tersebut dengan serangan teroris di Amerika Serikat, Suriah atau di manapun yang diorganisir oleh sebuah kelompok dengan motivasi yang sama dibalik kelompok tersebut.
"Serangan ini adalah upaya lain yang dilakukan oleh teroris untuk membuka front internal, menyebarkan kepanikan dan kekacauan, serta menyebabkan kebencian dan konflik antar agama di Rusia," katanya dalam sebuah pernyataan yang dipublikasi di situs resmi Kementerian Luar Negeri.
Dua insiden tersebut dipastikan merupakan serangan bom bunuh diri dan bukan ledakan yang dikendalikan dari jarak jauh. "Investigator yakin bahwa waktu dan tempat dari serangan teroris telah diseleksi, karena jalur bus listrik digunakan oleh banyak orang," kata jurubicara Komite Investigasi Rusia, Vladimir Markin.
Markin menambahkan bahwa pihaknya yakin dua serangan tersebut memiliki keterkaitan. Kedua bom yang digunakan memiliki ciri-ciri yang sama. Keduanya dilapisi dengan fragmen logam yang identik.
Demi menghindari kejadian serupa terjadi kembali di Rusia, Kepala Departemen Keamanan Regional, Aleksey Mayorov mengatakan bahwa keamanan akan lebih diperketat di sejumlah wilayah terutama di ibukota Moscow yang menjadi pusat keramaian perayaan tahun baru 2014.
"Kami akan memeriksa kembali fokus kami dengan pendekatan di tempat-tempat yang banyak orang berkumpul, baik bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi darat maupun bawah tanah," katanya.
Peningkatan keamanan serupa juga dilakukan oleh Komite Antiterorisme di seluruh Rusia.
[zul]
BERITA TERKAIT: