"Kami percaya reformasi pemerintah Perancis untuk perpajakan, serta produk, jasa dan pasar tenaga kerja, tidak akan secara substansial meningkatkan prospek pertumbuhan ekonomi Perancis dalam jangka menengah," tulis S&P dalam pernyataannya sebagaimana dikutip B
BC (Sabtu, 9/11).
Pihak S&P menurunkan peringkat Perancis berdasarkan tingginya angka pengangguran di negara itu, yang mengakibatkan pemerintah kesulitan dalam melakukan reformasi penting mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Tingginya pengangguran terus-menerus melemahkan dukungan terhadap langkah-langkah kebijakan struktural," jelas S&P.
Di sisi lain, Perdana Menteri Perancis Jean Marc Ayrault menepis penilaian dari lembaga yang berkantor di New York, Amerika Serikat itu. Menurutnya, peringkat utang adalah salah satu yang paling aman di zona euro.
"Peringkat Perancis tetap di antara yang terbaik di dunia. Badan tersebut tidak memperhitungkan semua reformasi yang dibuat oleh pemerintah," tegas Jean Marc Ayrault.
[ian]
BERITA TERKAIT: