Perubahan Gaya Kepimpinan di Korea Utara

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 27 September 2013, 15:58 WIB
Perubahan Gaya Kepimpinan di Korea Utara
FOTO:CNN
rmol news logo Pandangan negatif masyarakat Internasional mengenai Korea Utara yang diklaim sebagai negara pelanggar HAM serta sering melakukan ancaman senjata nuklir tampaknya dapat terbantahkan.

Pasalnya, Korea Utara mulai membuka dirinya terhadap dunia internasional. Seperti yang dilakukannya pada pekan ini ketika Korea Utara bersama dengan China menjadi tuan rumah bagi acara perlombaan balap sepeda internasional.

Acara yang bertema "Nordic Ways Vasa China - DPRKorea International Cycling Tourism Festival"secara resmi dibuka pada hari Senin (23/9) kemarin. Para peserta ditantang untuk menelusuri rute sejauh 50 kilometer tanpa batasan waktu yang dimulai dari provinsi Jilin, Cina dan berlanjut menuju perbatasan Korea Utara dengan melalui Sungai Tumen dan berakhir di Ranson, Korut. Acara tersebut diikuti oleh sekitar 40 orang pesepeda dari tujuh negara barat.

"Kami telah bernegosiasi dengan Cina dan Korea Utara untuk lebih dari satu tahun," kata Ketua Nordic-Way, Gavert Waag selaku pihak penyelenggara acara seperti dilansir oleh CNN, Jumat (27/9).

"Dengan olahraga kita membangun jembatan dan mematahkan batas-batas. Ini memberikan Korea Utara jendela (untuk membuka diri) ke Barat." lanjutnya.

Disamping acara olahraga tersebut, keterbukaan diri Korut juga diperlihatkan lewat acara kompetisi gulat yang digelar pada awal bulan ini. Dalam acara yang juga melibatkan Korea Selatan itu, lagu kebangsaan Korea Selatan diputar dan bendera Korea Selatan dinaikkan untuk pertama kali sejak pembagian kedua negara.

Pekan lalu, kawasan industri bersama Korea Selatan-Korea Utara di Kaesong yang juga merupakan simbol kerjasama kedua negara kembali dibuka setelah lima bulan dibekukan.

Pemerintah Korut  juga mengungkapkan rencana mengembangkan sektor pariwisata, mulai penerbangan langsung dari China, Asia Tenggara, dan Eropa ke Pyongyang. Hal tersebut diungkapkan oleh pusat pemberitaan media pemerintah Korea Utara (Korean Central News Agency /KCNA).

"Pemerintah Korea Utara jelas melakukan serangan pesona dan senyum. Korea Utara tengah (bersikap) lebih baik terhadap dunia luar," kata Profesor Brian Bridges dari Universitas Lingnan di Hong Kong.

Ia juga menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya perubahan gaya kepemimpinan di Korea Utara.

"Kami melihat perubahan gaya kepemimpinan dari pemimpin muda, meskipun kita masih belum melihat adanya perubahan dalam kebijakan ekonomi atau reformasi politik," kata Profesor Brian.[wid] 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA