Untuk keperluan itu, Obama sudah meminta 'restu' Kongres AS. Meski restu belum ada, niat Obama itu kian menguat.
"Langkah Obama itu, menurut hemat saya, terlalu terburu-buru. Langkah damai dengan meningkatkan diplomasi internasional mencari solusi terbaik bagi Suriah masih bisa diupayakan," ujar Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam (PKTTDI) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hery Sucipto kepada
Rakyat Merdeka Online Jumat (6/9).
Opsi militer, lanjut Hery, tidak menyelesaikan masalah. Dalam jangka pendek, opsi militer mungkin saja dapat menghentikan dan memaksa rezim Bassar Assar turun. Akan tetapi, yang lebih penting adalah efek jangka panjang setelah invasi militer itu dilakukan.
"Dampak jangka panjang, Suriah akan dilanda politik balas dendam, konflik antar warga, antar pendukung Assad dan oposisi, sekalipun Assad telah melarikan diri misalnya. Tapi, yang pasti kondisi akan semakin chaos dan semakin menambah pelik persoalan," prediksi dia.
Ia justru meminta lembaga-lembaga internasional, terutama PBB untuk lebih kerja keras lagi mencegah meletusnya perang. Jika perang terjadi, kata Hery, bukan saja Suriah dan AS yang terlibat, tapi juga kekuatan-kekuatan luar yang selama ini telah terlibat secara tidak langsung.
"Iran, Rusia, dan China sangat mungkin terlibat. Iran dan Rusia bahkan sudah mengirimkan persenjataannya untuk menyokong Suriah. Jika ini terjadi, maka Timur Tengah akan dilanda perang terbuka," papar fungsionaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini.
Pihaknya prihatin dan menyayangkan terus berlanjutnya korban sipil di Suriah. Semua memang harus diakhiri. Namun, kata dia, harus dicari cara tepat, win win solution agar perang Suriah dapat dihindari.
Ia meminta Pemerintah Indonesia lebih aktif dalam membantu mencari solusi damai. Sebenarnya, lanjut jebolan Universitas Al Azhar ini, Indonesia berpotensi menjadi mediator strategis. Hanya saja, semua tergantung pada
political will pemerintah kita.
[zul]
BERITA TERKAIT: