
Tepat pada hari ini, para pemilik hak suara di Mali berbondong-bondong menyambangi tempat pemungutan suara (TPS) terdekat. Mereka akan melakoni pemilu presiden putaran kedua untuk memilih pemimpin yang bisa membawa negara itu keluar dari perang saudara dan krisis politik yang telah terjadi selama 18 bulan.
Dalam pilpres putaran kedua ini mantan Perdana Menteri Ibrahim Boubacar Keita akan bersaing dengan mantan menteri keuangan Soumalia Cisse. Para analis internasional menyebut pertarungan ini sebagai kemungkinan titik balik bagi negara di Afrika Barat itu. Demikian seperti dilansir
Voanews (Minggu, 11/8).
Diprediksikan Keita mampu memenangi pemilu ini dengan mudah. Pasalnya pada putaran pertama tanggal 28 Juli lalu, Keita mendominasi dengan meraih 40 persen suara, sementara Cisse hanya meraih sekitar 20 persen suara. Ditambah, sebagian besar dari ke-25 kandidat lain yang tersingkir dari putaran pertama pemilu, telah memberikan dukungan mereka kepada Keita, termasuk kandidat yang meraih suara terbesar ketiga Dramane Dembele.
Pemilu ini merupakan pemilihan umum pertama yang dilangsungkan di Mali sejak tahun 2007 dan dinilai penting untuk mencairkan hampir empat milyar dollar dana internasional yang dijanjikan. Dana ini dibekukan setelah adanya kudeta militer tahun lalu yang menjerumuskan negara itu dalam kekacauan.
[ian]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: